Menteri PUPR Terpukul Kasus Korupsi di Sumut, Jalan Nasional Sulawesi Utara Ikut Jadi Sorotan

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Sabtu, 5 Juli 2025 | 19:17 WIB
Potret Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, merasa terpukul dan tertampar saat OTT KPK oknum pejabatnya di Sumatera Utara. (Instagram/dody_hanggodo)
Potret Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, merasa terpukul dan tertampar saat OTT KPK oknum pejabatnya di Sumatera Utara. (Instagram/dody_hanggodo)

MANADO, [NAMA MEDIA] – Kasus penangkapan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sumatera Utara (Sumut), Topan Ginting, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis malam, 26 Juni 2025, telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh jajaran Kementerian PUPR. Topan Ginting, bersama empat tersangka lainnya, kini menyandang status tersangka atas dugaan suap proyek jalan senilai Rp231,8 miliar.

Direktur Penyidikan KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa Topan Ginting diduga memfasilitasi kontraktor tertentu untuk menggarap proyek jalan di Dinas PUPR Sumut dan Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 1 Sumut. Selain Topan Ginting, yang juga ditetapkan sebagai tersangka adalah RES (Kepala UPTD Gunung Tua Dinas PUPR Provinsi Sumut), HEL (Satker PJN Wilayah 1 Sumut), KIR (Direktur Utama PT DNG), dan RAY (Direktur PT RN). Penemuan uang tunai Rp231 juta di kediaman KIR oleh KPK, yang diduga sisa suap, semakin menguatkan bukti keterlibatan mereka.

Tamparan Keras bagi Kementerian PU

Kasus ini langsung ditanggapi serius oleh Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU), Dody Hanggodo. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terpukulnya dan menyebut kejadian ini sebagai "tamparan keras" bagi kementerian yang dipimpinnya. "Jangan ada pertanyaan lagi karena saya agak terpukul dan ini benar-benar tamparan keras ke saya," ujar Menteri Dody dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu malam, 28 Juni 2025.

Meskipun mengaku baru mengetahui detail kasus melalui pemberitaan, Menteri Dody berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh, sejalan dengan mandat Presiden Prabowo dalam upaya pemberantasan korupsi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk bersih-bersih di tubuh birokrasi, terutama di sektor vital seperti infrastruktur.

Kualitas Jalan Nasional Sulawesi Utara Jadi Pertanyaan Besar

Namun, kasus di Sumut ini secara tak terhindarkan juga memantik sorotan tajam terhadap kualitas jalan nasional di Sulawesi Utara. Masyarakat di Manado dan berbagai daerah Sulut telah lama mengeluhkan kondisi jalan yang memprihatinkan. Seringkali, perbaikan atau penambalan jalan hanya bertahan dalam hitungan bulan sebelum kembali rusak parah dan berlubang.

"Kami di sini sudah capek lihat jalan tambalan yang enggak sampai setahun sudah rusak lagi," keluh seorang warga Manado yang enggan diberitakan namanya. "Pertanyaan kami, apakah ini karena kualitas pengerjaannya yang memang buruk, atau jangan-jangan ada praktik-praktik seperti di Sumut itu yang bikin anggaran cuma habis di atas kertas tapi hasilnya nol di lapangan?"

Kondisi jalan yang berulang kali rusak ini bukan hanya merugikan uang negara, tapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Kasus korupsi di Sumut ini semakin memperkuat desakan publik agar Kementerian PUPR, khususnya PJN Wilayah Sulawesi Utara, segera melakukan audit menyeluruh terhadap semua proyek jalan yang telah dan sedang berjalan. Transparansi dalam setiap tahapan proyek, mulai dari pengadaan hingga pengerjaan, adalah kunci untuk memastikan anggaran negara benar-benar digunakan untuk pembangunan yang berkualitas demi kesejahteraan rakyat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Presiden Prabowo Dikabarkan Kunjungi Sulut

Jumat, 8 Mei 2026 | 09:38 WIB
X