Bahlil Ungkap Kunci Kolaborasi RI-Tiongkok: Indonesia Unggul SDA, Tiongkok Kuasai Teknologi Baterai

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Sabtu, 5 Juli 2025 | 11:09 WIB
Potret Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara Human Capital Summit 2025. (Instagram/bahlillahadalia)
Potret Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara Human Capital Summit 2025. (Instagram/bahlillahadalia)

KARAWANG – Proyek baterai listrik terintegrasi senilai US$5,9 miliar atau sekitar Rp95,43 triliun resmi bergulir. Kolaborasi strategis antara Indonesia dan Tiongkok ini melibatkan perusahaan raksasa seperti ANTAM, konsorsium baterai BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium perusahaan Tiongkok CATL, Brunp, dan Lygend (CBL). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut kerja sama ini sebagai cerminan saling melengkapi antara kedua negara.

Dalam peresmian groundbreaking proyek di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025), Bahlil menjelaskan esensi di balik kemitraan ini. “Proyek ini sesungguhnya adalah gagasan awal yang muncul untuk kita melakukan kolaborasi antara negara yang punya sumber daya alam dengan negara yang punya teknologi dan market,” ujarnya.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia kaya akan bahan baku pembuatan baterai, namun masih memerlukan transfer teknologi untuk pengolahannya. “Indonesia, itu betul dari bahan baterai, nikel, mangan, kobalt, dan lithium, yang kita tidak punya itu tinggal lithium tapi semua yang lain punya,” jelas Bahlil.

Meskipun demikian, Indonesia masih butuh dukungan dalam hal teknologi. “Teknologi memang belum terlalu kita miliki secara komprehensif, karena itu kita lakukan kerja sama dengan teman-teman dari China khususnya CATL,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa CATL, sebagai produsen baterai mobil terbesar di dunia, menjadi mitra vital dalam upaya hilirisasi sumber daya alam Indonesia.

Proyek ambisius ini ditargetkan mampu memproduksi baterai listrik dengan kapasitas maksimal 15 GWh dalam dua tahap. Pada tahap pertama, kapasitas produksi diharapkan mencapai 6,9 GWh pada tahun 2026. Ini menandai langkah besar Indonesia dalam membangun ekosistem industri baterai yang mandiri dan kompetitif di kancah global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X