Baca! Sejarah Buruh Internasional: Perjalanan Menuju Solidaritas Global

photo author
Stefanus Goni, Sulut Zone
- Rabu, 10 April 2024 | 20:09 WIB
Para buruh disebuah perusahaan (MarkoLovric/Pixabay)
Para buruh disebuah perusahaan (MarkoLovric/Pixabay)

SulutZone,com - Perjalanan sejarah buruh internasional merupakan kisah tentang perjuangan, solidaritas, dan pencarian keadilan bagi pekerja di seluruh dunia.

Dari awal revolusi industri hingga era globalisasi modern, gerakan buruh telah menjadi kekuatan utama dalam membentuk kondisi kerja, hak-hak pekerja, dan struktur sosial di tingkat internasional.

Mari kita telusuri perjalanan panjang gerakan buruh ini:

1. Awal Revolusi Industri.
Periode awal revolusi industri pada abad ke-18 di Britania Raya menjadi awal mula terbentuknya gerakan buruh yang terorganisir. Pekerja pabrik, terutama di sektor tekstil dan pertambangan, menghadapi kondisi kerja yang keras dan eksploitasi yang ekstrem.

Baca Juga: Sholat Idul Fitri 1445 H di Mapolda Sulut Berlangsung Khusyuk

Mereka mulai membentuk serikat pekerja dan melakukan protes untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

2. Munculnya Pemikiran Sosialis dan Komunis.
Pada abad ke-19, pemikiran sosialis dan komunis mulai memengaruhi gerakan buruh di seluruh Eropa.

Karl Marx dan Friedrich Engels menulis "Manifesto Komunis" pada tahun 1848, yang menggugah semangat pekerja untuk memperjuangkan hak-hak ekonomi dan politik yang lebih adil.

3. Organisasi Internasional.
Perkembangan kapitalisme global mendorong pekerja untuk mengorganisir diri mereka secara internasional.

Baca Juga: Ratusan Personil Kepolisian Amankan Pawai Takbiran Idul Fitri 1445 H di Manado

Pada tahun 1864, Internasional Pertama (First International) didirikan sebagai forum untuk koordinasi gerakan buruh di seluruh dunia.

Meskipun hanya bertahan selama beberapa tahun, ini menandai langkah awal menuju solidaritas internasional.

4. Perjuangan untuk Hak-Hak Pekerja.
Pada abad ke-20, gerakan buruh terus berjuang untuk hak-hak pekerja yang lebih baik.

Baca Juga: Sudah Membudaya di Pineleng, Warga Non-Is Jaga Sholat Idul Fitri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Goni

Tags

Rekomendasi

Terkini

X