Sulutzone.com — Beberapa siswa yang menjadi korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hingga kini masih harus menjalani perawatan medis secara maraton.
Pemeriksaan intensif terpaksa dilakukan setelah dugaan paparan racun berisiko menyerang sistem saraf hingga menyebabkan kerusakan organ vital seperti ginjal dan jantung para siswa.
Buntut dari kejadian tersebut, para orang tua siswa menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karo pada Senin, 7 September 2026. Namun, ruang rapat mendadak memanas ketika para orang tua meluapkan kemarahan dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Isak Tangis Orang Tua: Anak Kena Ginjal dan Trauma Sosial
Hadir dalam RDP tersebut, Fitriani br Sijabat, orang tua dari Agnesia Paruliana br Silitonga yang merupakan siswa berprestasi di SMAN 1 Berastagi. Fitriani tak sanggup membendung emosinya saat menyuarakan kondisi terkini sang anak yang kini menderita kerusakan ginjal.
"Anak saya kena ginjalnya, di mana hati nurani kalian? Terutama Kepala SPPG. Bapak punya anak atau tidak?" tegas Fitriani dengan nada emosional saat RDP di Gedung DPRD Karo, Senin (7/9/2026).
Fitriani menuturkan bahwa anaknya kini bertambah lemah dan sudah tiga kali harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengecam keras ketidakjelasan hasil tes laboratorium mengenai jenis racun yang mengontaminasi makanan ikan tersebut.
"Ini anakku lemah di rumah, ini tentang nyawa. Anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit. Sampai saat ini, kami tidak tahu racun apa yang terdeteksi di ikan itu," lanjutnya.
Selain gangguan fisik, insiden ini juga berdampak buruk pada kondisi psikologis anaknya. Siswa yang dulunya berprestasi tersebut kini mengalami perubahan sikap dramatis dan menjadi sangat ketakutan setiap kali melihat keramaian.
Soroti Pertanggungjawaban SPPG dan Biaya Pengobatan Murah
Fitriani secara tegas menolak jika pihak SPPG Karo Berastagi Sempajaya hanya memberikan klarifikasi dan permohonan maaf semata tanpa penanganan konkret. Ia mengungkapkan bahwa hasil tes urin anaknya mengonfirmasi adanya paparan bakteri.
Ibu korban juga mempertanyakan kualitas pengobatan yang ditanggung oleh pihak penyelenggara maupun pemerintah.
"Harga obat yang dikonsumsi anak-anak kami Rp18.000, Rp20.000, yang paling mahal Rp50.000. Seyogyanya kalau negara bertanggung jawab, kenapa obatnya seperti itu? Apakah antinyeri bisa menyembuhkan untuk selamanya? Tidak, Pak," sindirnya.
Ia menyayangkan sikap dingin pihak SPPG yang dinilai tidak pernah berinisiatif menanyakan kabar atau memastikan kondisi fisik para siswa terdampak.
Kilas Balik Kasus Keracunan Kitab MBG di Berastagi
| Parameter Kejadian | Detail Informasi |
| Waktu Kejadian | Kamis, 13 Agustus 2026 |
| Sekolah Terdampak | SMAN 1 Berastagi, SMA Bersama, & SMKN 1 Berastagi |
| Jumlah Korban | Sekitar 353 Siswa (Data per 14 Agustus 2026) |
| Gejala Utama | Mual, muntah, pusing, bibir membengkak, hingga gangguan ginjal |
| Fasilitas Kesehatan Rujukan | RS Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, RSU Kabanjahe, & Puskesmas Berastagi |
Kasus massal ini menjadi perhatian serius masyarakat Sumatera Utara, terutama mengingat besarnya jumlah korban siswa yang terdampak program pemenuhan gizi tersebut. Pihak keluarga korban mendesak agar aparat penegak hukum dan instansi terkait mengusut tuntas penyebab serta menindak pihak yang bertanggung jawab.