Target 52,9 GW EBT di RUPTL: PLN Tawarkan Unit Karbon dan REC untuk Akselerasi NZE Pelanggan

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Kamis, 27 November 2025 | 00:56 WIB
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi menjelaskan bahwa PLN bersama Pemerintah kini mengambil peran baru sebagai katalis dan akselerator pasar karbon untuk mempercepat transisi energi dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi perubahan iklim. (Istimewa/PLN)
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi menjelaskan bahwa PLN bersama Pemerintah kini mengambil peran baru sebagai katalis dan akselerator pasar karbon untuk mempercepat transisi energi dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi perubahan iklim. (Istimewa/PLN)

Brasil – PT PLN (Persero) menawarkan solusi dekarbonisasi terpadu bagi pelaku usaha melalui produk green attributes, sejalan dengan target ambisius penambahan kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, mengungkapkan bahwa RUPTL terbaru menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 Gigawatt (GW), di mana 76% atau 52,9 GW berasal dari EBT dan storage.

Penambahan aset ini diperkirakan menghasilkan lebih dari 1.000 terawatt-jam listrik hijau selama sepuluh tahun ke depan, membuka peluang besar bagi ekonomi hijau.

"PLN telah berkomitmen mencapai Net Zero Emissions pada 2060, dan kami ingin menjadi pemimpin global dengan menyediakan pasokan energi hijau yang melimpah serta berbagai fasilitas pendukung target keberlanjutan yang dibutuhkan pelanggan," kata Evy Haryadi dalam keterangannya di COP30, Belém, Brasil, Kamis (13/11).

 Baca Juga: PLN Gandeng Norwegia dan Jepang di COP30: Akselerasi Pasar Karbon Pasal 6 Paris Agreement

Dua Produk Utama untuk Dekarbonisasi Industri

Untuk mendukung dekarbonisasi perusahaan, PLN menawarkan dua produk utama berbasis green attributes:

  1. Unit Karbon: Memungkinkan perusahaan mengimbangi emisi gas rumah kaca mereka melalui proyek pengurang emisi menggunakan skema sertifikasi domestik dan internasional yang kredibel.

  2. Green Energy as a Service: Meliputi Renewable Energy Certificate (REC) dan Dedicated Green Energy Sources, yang memberikan akses langsung dan stabil ke listrik bersih.

Evy Haryadi menekankan pentingnya REC sebagai instrumen transparansi. "REC membantu pelaku usaha memiliki pengakuan resmi dan transparan bahwa listrik yang digunakan berasal dari energi baru terbarukan. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas kepatuhan, tetapi juga membuka peluang percepatan dekarbonisasi di berbagai sektor industri,” jelasnya.

PLN mengajak investor dan mitra teknologi untuk mendukung percepatan realisasi proyek-proyek strategis guna mentransformasi sektor ketenagalistrikan Indonesia menuju ekosistem energi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing internasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X