SulutZone.com - Halo pembaca yang budiman! Pada pertemuan terakhirnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia telah membuat beberapa keputusan penting yang berpotensi besar mempengaruhi perekonomian Indonesia.
Keputusan tersebut diambil dalam rangka memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sejalan dengan dampak memburuknya risiko global.
Tema utama dari keputusan RDG kali ini adalah penyesuaian BI-Rate, suku bunga Deposit Facility, dan suku bunga Lending Facility. Rabu, (24/04/2024)
Baca Juga: Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Maret
Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%.
Kenaikan ini dirancang sebagai upaya proaktif dan antisipatif dalam menjaga inflasi agar tetap dalam target 2,5±1% pada 2024 dan 2025, sambil tetap mempertahankan kebijakan moneter yang stabil.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kebijakan ini mencakup upaya memperluas akses digitalisasi sistem pembayaran dan mendorong kredit/pembiayaan perbankan ke sektor usaha dan rumah tangga.
Untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Baca Juga: Industri Pengolahan Pada Peningkatan Triwulan I
Ini termasuk kenaikan struktur suku bunga di pasar uang Rupiah sejalan dengan peningkatan BI-Rate dan yield US Treasury, serta penguatan strategi transaksi term-repo SBN dan swap valas.
Bank Indonesia juga terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial longgar untuk mendukung pertumbuhan kredit/pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Ini termasuk memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan dalam sektor-sektor prioritas, seperti sektor penunjang hilirisasi, konstruksi, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, dan lainnya.
Bank Indonesia juga mempertahankan berbagai rasio makroprudensial, seperti Rasio Countercyclical Capital Buffer (CCyB), Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), dan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Artikel Terkait
Kamu Perlu Tahu, Ini 9 Lokasi Pengisian Mobil Listrik di Suluttenggo
GM PLN Suluttenggo Inspeksi Kesiapan SPKLU Untuk Mudik di Jalur Trans Sulawesi
Siap Kembangkan Wisata Tekaan Telu, PLN Suluttenggo Kucurkan Rp395 Juta
Siaran Pers: PGE Lahendong Menegaskan Komitmen pada Tanggung Jawab Sosial Perusahaan melalui Inisiatif Berkelanjutan
Simak Program The Power Of Emak-emak Kemenparekraf
PLN Berikan Bantuan Untuk Peningkatan Pariwisata di Tekaan Telu
PLN Dukung Produktivitas Nelayan di Sidoarjo, Tolitoli
Triwulan I 2024, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Positif
Industri Pengolahan Pada Peningkatan Triwulan I
Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Maret