RINGKASAN BERITA
-
Ibadah Pembukaan SMSI ke-82 GMIM: Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menghadiri dan menyampaikan sambutan pada Pembukaan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 GMIM di Manado Convention Center (MCC), Kamis (24/9/2026).
-
Peran Strategis GMIM: Gubernur Yulius Selvanus menegaskan bahwa GMIM adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan pembangunan Sulawesi Utara yang berkontribusi nyata pada bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga pembentukan karakter masyarakat.
-
Capaian Indikator Makro Daerah: Gubernur memaparkan indikator ekonomi Sulut yang tumbuh solid 5,42 persen pada Semester I 2026, IPM yang bertahan di angka 76,32, penekanan angka kemiskinan hingga 6,32 persen, serta inflasi terkendali sebesar 2,53 persen.
-
Revisi Tata Gereja 2021: Gubernur Yulius Selvanus berpesan agar pembahasan revisi Tata Gereja GMIM 2021 diikuti dengan hati tulus dan hikmat agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan dasar iman Alkitabiah.
MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) secara konsisten mendorong sinergi yang kokoh bersama lembaga keagamaan demi memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi daerah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, saat memberikan sambutan pada Ibadah Pembukaan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang berlangsung khidmat di Manado Convention Center (MCC), Kamis (24/9/2026) pagi.
Ibadah pembukaan persidangan gerejawi tersebut dihadiri oleh Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM Pdt. Dr. Adolf K. Wenas, M.Th bersama jajaran BPMS, unsur Forkopimda Sulut, para kepala daerah se-Sulut atau yang mewakili, KaKanwil Kemenag Sulut Dr. H. Ulyas Taha, M.Pd, serta para pendeta, pelayan khusus, dan peserta sidang dari seluruh wilayah persekutuan Sinode GMIM.
Mengawali sambutannya, Gubernur Yulius Selvanus atas nama Pemerintah Provinsi Sulut menyampaikan selamat melaksanakan SMSI ke-82 kepada seluruh hamba Tuhan dan perangkat pelayanan GMIM. Ia menilai agenda ini memiliki arti penting untuk memikirkan, membicarakan, dan menetapkan arah pelayanan gereja ke depan secara bersama-sama.
"Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memandang bahwa GMIM merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah dan pembangunan Bumi Nyiur Melambai. Sebagai salah satu gereja terbesar di Indonesia dan Sulawesi Utara, GMIM tidak hanya membina kehidupan spiritual jemaat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta pembentukan karakter," ujar Gubernur Yulius Selvanus.
Pilar Pembangunan SDM dan Indikator Makro Sulut
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Yulius Selvanus turut memaparkan capaian indikator makro pembangunan daerah yang bertepatan dengan momentum Peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara pada 23 September 2026.
Ia merinci bahwa hingga akhir Semester I Tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tercatat tumbuh meyakinkan sebesar 5,42 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara konsisten berada pada angka 76,32.
Di samping itu, pada Triwulan II Tahun 2026, angka kemiskinan daerah berhasil ditekan hingga ke level 6,32 persen, serta laju inflasi daerah berada pada angka yang sangat terkendali, yakni 2,53 persen.
"Berbagai capaian positif tersebut tentu merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan di dalamnya GMIM. Kehadiran GMIM sangat nyata dalam membangun kualitas sumber daya manusia serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan di daerah ini," jelas Gubernur YSK.
Pesan Penguatan Tata Gereja Menjawab Dinamika Zaman
Menanggapi agenda utama SMSI ke-82 yang membahas revisi Tata Gereja GMIM 2021, Gubernur mengingatkan bahwa Tata Gereja bukan sekadar kumpulan aturan administratif, melainkan instrumen penting pedoman persekutuan, pelayanan, dan kesaksian gereja.
"Gereja terus berhadapan dengan perubahan zaman, perkembangan teknologi yang pesat, serta kompleksitas tantangan kehidupan keluarga. Dalam konteks inilah, Tata Gereja perlu senantiasa mampu menjadi pedoman yang menjawab kebutuhan zaman, namun tetap berlandaskan pada Alkitab, tanpa kehilangan dasar iman dan identitas GMIM itu sendiri," imbaunya.