Manado, sulutzone.com – Bupati Kepulauan Talaud, Welly Titah, menghadiri puncak perayaan Paskah Nasional 2026 yang dipusatkan di Kawasan Pohon Kasih Megamas, Manado pada Rabu, (08/04/2026). Perayaan ini menjadi momentum penting dalam mempererat persaudaraan dan toleransi di tengah keberagaman bangsa.
Mengusung tema "Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita", acara ini dihadiri oleh ribuan jemaat dari berbagai denominasi gereja yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.
Pesan Kebangkitan dan Kemanusiaan
Bupati Welly Titah menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah daerah dalam agenda nasional ini merupakan bentuk dukungan terhadap penguatan nilai-nilai religius dan sosial.
Menurutnya, Paskah tahun ini memiliki makna mendalam bagi pembangunan kemanusiaan.
"Momentum Paskah ini adalah pengingat akan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Semangat kebangkitan ini harus kita maknai untuk memperkokoh iman serta mempererat hubungan antarumat beragama dalam bingkai kasih persaudaraan," ujar Bupati Welly Titah di sela-sela kegiatan.
Ia juga menambahkan bahwa nilai-nilai toleransi dan pelestarian budaya merupakan kunci utama dalam menjaga persatuan Indonesia, terutama di wilayah perbatasan seperti Kepulauan Talaud.
Perpaduan Ibadah dan Gelar Budaya
Ibadah syukur Paskah Nasional ini dipimpin oleh Pdt. Adolf Wenas selaku Ketua Sinode GMIM.
Suasana berlangsung khidmat namun penuh sukacita dengan iringan puji-pujian.
Selain prosesi ibadah, panitia juga menyuguhkan pagelaran budaya dari berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa Paskah Nasional tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi wadah dalam merayakan keberagaman identitas nasional.
Dihadiri Tokoh Nasional dan Daerah
Perayaan yang berlangsung di tepi pantai Manado ini turut dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya:
Ketua DPD RI
Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag)
Gubernur Sulawesi Utara
Para Bupati dan Walikota se-Sulawesi Utara
Tokoh Agama dan Tokoh Nasional
Kehadiran para pemimpin daerah dan nasional ini menegaskan posisi Sulawesi Utara, khususnya Manado, sebagai barometer laboratorium kerukunan umat beragama di Indonesia.