Padahal, menurutnya, masyarakat seharusnya menjadi subjek utama dalam penerimaan dan pengelolaan bantuan tersebut.
Meskipun mengakui adanya miskomunikasi sebagai salah satu pemicu kekacauan ini, Tio Kaat menegaskan adanya indikasi kuat permainan di balik layar yang menyebabkan perubahan mendadak pada rencana yang telah matang tersebut.
Hal ini, menurutnya, terlihat dari diabaikannya tuntutan apresiasi yang disampaikan oleh beberapa generasi muda yang selama ini aktif mengkoordinasikan kepentingan pihak vendor dengan pemerintah.
Baca Juga: Kondisi Kelistrikan dan Upaya Penguatan Sistem Kelistrikan di Pulau Bunaken
Generasi muda Langowan Barat, melalui pernyataan tegasnya, menyampaikan bahwa aspirasi utama mereka sangat sederhana namun mendasar.
"Pernyataan utama dari kami generasi muda adalah, kami menginginkan distribusi pemerataan bantuan kepada seluruh masyarakat yang berhak menerimanya. Termasuk di dalamnya transparansi penuh terkait anggaran kegiatan," ujar perwakilan generasi muda dalam kesempatan terpisah.
Tuntutan ini, menurut mereka, bukanlah hal yang berlebihan mengingat menyangkut keberlanjutan program di masa mendatang.
Tanpa adanya pemerataan distribusi dan transparansi anggaran, dikhawatirkan program yang seharusnya membawa manfaat luas bagi masyarakat justru hanya akan dinikmati oleh segelintir pihak saja.
Akibatnya, tujuan mulia dari program CSR tidak akan pernah tercapai secara utuh dan keberlanjutan program di masa depan akan terancam.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-81 RI, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50% bagi Pelanggan
Permasalahan ini juga mengangkat kembali narasi yang berkembang di lingkungan "kampung presiden" tentang pentingnya keberpihakan nyata kepada masyarakat akar rumput.
Narasi tersebut menekankan bahwa setiap program yang dirancang untuk kepentingan rakyat harus benar-benar menyentuh mereka secara langsung, bukan justru terjebak dalam birokrasi yang berbelit atau praktik-praktik yang mengabaikan prinsip keadilan.
Kasus di Langowan Barat ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah program yang dirancang dengan baik di atas kertas dapat gagal di lapangan ketika prinsip-prinsip dasar tersebut diabaikan.
Baca Juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka, AMAN Sulut Desak Pemerintah Segera Akui dan Lindungi Hak Masyarakat Adat
Tidak luput dari sorotan adalah sikap pemerintah kecamatan yang dinilai cenderung selalu "melempar bola" ketika menghadapi permasalahan dalam suatu kegiatan.
Artikel Terkait
Kasus Dugaan Korupsi CSR Bank Indonesia yang Digeledah KPK: Begini Duduk Perkaranya
Skandal Korupsi CSR BI dan Urgensi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Raih Predikat Platinum di Nusantara CSR Awards 2026, Bukti Nyata PLN Suluttenggo Memimpin Dalam Transisi Energi
Pasar Langowan Siap Sambut Pengucapan Syukur, Harga Terkendali dan Pasokan Melimpah
Semarak HUT ke-81 RI di Kampung Presiden Langowan Resmi Dibuka, Vanda Sarundajang Ajak Warga Jaga Persatuan dan Sportivitas
Gedung Eks SD Negeri 2 Langowan Terbakar, Dugaan Arus Pendek Jadi Penyebab
“Apa Maksud Ini?” Drumband SD Advent Langowan Dihentikan, Panitia Siap Terima Kritik
Indonesia Merdeka, Masyarakat Langowan Merana? Rute Gerak Jalan H-1 Kembali Dipertanyakan