Manado, Sulutzonecom -- Menjelang perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili yang akan digelar Selasa, 3 Maret 2026, umat Tridharma di Kota Manado melaksanakan rangkaian ritual sakral di sejumlah kelenteng, termasuk di Kelenteng Ban Hing Kiong, pusat kegiatan keagamaan Tridharma tertua dan terbesar di Sulawesi Utara.
Pada Minggu (1/3/2026), digelar sembahyang Cap Sa sebagai bagian dari rangkaian menyambut Goan Siau atau Cap Go Meh, yang merupakan puncak perayaan Imlek pada hari ke-15. Setelah sembahyang, ritual dilanjutkan dengan prosesi Po Kiam atau pengasahan pedang, yakni penyucian senjata tajam seperti pedang dan tombak yang akan digunakan para Tang Sin saat perayaan nanti.
Di Kelenteng Ban Hing Kiong, Christian Sumartlie terpilih untuk mengasah Po Kiam atau pedang setelah mendapatkan petunjuk melalui ritual batu Poa Pwe. Proses ini tidak dilakukan sembarangan, karena pemilihan dilakukan berdasarkan tanda spiritual sesuai kepercayaan umat.
Sebelum menjalankan tugas tersebut, Christian diwajibkan menjalani puasa cia cai sebagai bentuk pengendalian diri dan persiapan batin. Puasa ini menjadi bagian penting dalam proses penyucian diri agar ritual berjalan khidmat dan penuh makna.
Selain dimaknai sebagai persiapan teknis menjelang Cap Go Meh, ritual pengasahan pedang juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Prosesi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan energi negatif, penolak bala, serta permohonan keselamatan agar seluruh rangkaian Cap Go Meh berlangsung aman dan lancar bagi peserta maupun masyarakat yang menyaksikan.
Ketua Perhimpunan TITD Kota Manado, Ridwan Sanyoto, menjelaskan bahwa ritual gosok pedang memiliki makna simbolis dalam ajaran Tridharma.
“Hari gosok pedang itu bermakna simbolis untuk membersihkan segala dosa manusia ditebus oleh Dewa Kwan Kong. Nanti Dewa Kwan Kong akan memberikan kita rezeki, kemuliaan, kemakmuran di kehidupan kita sesuai kepercayaan kita umat Tridharma,” ujar Ridwan.
Kelenteng Ban Hing Kiong sendiri menjadi salah satu pusat utama pelaksanaan ritual Cap Go Meh di Manado. Dari kelenteng ini, Persaudaraan Hap Tan turut ambil bagian dengan menurunkan empat kio (usungan dewa) dan satu Tang Sin dalam prosesi nanti.
Secara keseluruhan, perayaan Cap Go Meh di Kota Manado akan diikuti sembilan kelenteng dengan melibatkan 14 usungan kio dan 19 Tang Sin yang akan berjalan mengelilingi kawasan Kampung Cina seperti tahun-tahun sebelumnya.
Prosesi Cap Go Meh terdiri dari barisan ritual dan non-ritual. Untuk barisan non-ritual, panitia melibatkan berbagai unsur budaya dari Tanah Minahasa dan Kota Manado, termasuk penampilan anak-anak ahli wushu, karate, serta drum band.
Ridwan juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Manado dan pihak kepolisian yang telah memberikan dukungan penuh demi kelancaran perayaan Cap Go Meh tahun ini. Ia berharap masyarakat dapat bersama-sama menyukseskan perayaan serta menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Manado.
Ikuti terus perkembangan berita budaya, wisata religi, dan peristiwa menarik lainnya di Sulawesi Utara hanya di sulutzone.com.
Artikel Terkait
Cap Go Meh Manado Direstui Turun Ke Jalan, Catat Tanggalnya!
Perayaan Cap Go Meh 2025: Rute dan Persiapan Umat Tridharma Manado
Cap Go Meh Manado Dipastikan Meriah, Ini Jumlah Tangsin Yang Akan Ikut Prosesi
Tradisi Sakral Cap Go Meh di Manado: Ritual Asah Pedang Atau Po Kiam
Lontong Cap Go Meh: Sejarah dan Makna di Balik Hidangan Khas Imlek
Polsek Wenang Lakukan Patroli dan Himbauan Tertibkan Parkir Jelang Perayaan Cap Go Meh 2025
Festival Cap Go Meh di Manado Berlangsung Meriah, Ribuan Warga Tumpah Ruah Menyaksikan
Cap Go Meh Singkawang: Gibran Rakabuming Raka Rayakan Keberagaman Tanpa Sambutan Resmi!
Cap Go Meh Manado 2026: Rute, Sejarah, dan Makna di Balik Pasiar Tapikong