religi

MTPJ 30 Maret – 5 April 2025 Yohanes – 12:20-36 – “Yesus Memberitakan Kematian-Nya!

Minggu, 30 Maret 2025 | 09:50 WIB
MTPJ (Ist)

Sulutzonecom

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Saat ini kita sedang berada di tengah kemajuan dunia yang ditandai dengan kemudahan untuk berkomunikasi satu sama lain. Sangat berbeda dengan keadaan di masa lalu, dalam rangka menyampaikan informasi, Hukum Tua harus mengutus seorang warga berjalan ke seluruh kampung dengan suara yang nyaring pengumumannya kepada semua masyarakat. Hal tersebut menjadi cara yang dipilih agar suatu informasi dapat disampaikan kepada masyarakat. Saat ini, dengan kemajuan teknologi informasi, Hukum Tua/Kepala desa ataupun pemimpin di semua kelompok, jemaat, kolom dan di desa, dapat dengan mudah menggunakan aplikasi Whatsapp dalam ponsel untuk menyampaikan informasi. Demikian pula, dengan informasi yang jelas dan benar, masyarakat atau jemaat dapat mengetahui maksud dan tujuan menyampaikan informasi tersebut. Contoh yang sangat jelas dapat dilihat ketika suatu kelompok orang hendak mengadakan kegiatan tertentu. Proses persiapan hingga pelaksanaannya dapat dengan mudah dikerjakan karena informasi penting disampaikan dengan jelas dan benar menggunakan sarana komunikasi canggih yang ada.

Dalam mempersiapkan para murid-Nya, dan orang-orang yang mengikuti-Nya, maka Yesus Kristus menyampaikan atau memberitakan kepada mereka segala sesuatu yang akan Ia lakukan dan alami, termasuk kematian-Nya. Pada Minggu Sengsara Keempat ini, kita akan dituntun dengan tema “Yesus Memberitakan Kematian-Nya.”

PEMBAHASAN TEMATIS

 

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

 

Injil Yohanes adalah salah satu dari empat Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru yang berisi cerita tentang kehidupan, ajaran, mujizat, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Para ahli PB berbeda pendapat dalam menentukan siapa penulis Injil ini. Namun, siapa pun penulisnya, Injil ini dituliskan kepada jemaat Kristen yang sementara pendapat berbeda dengan para pengikut Yohanes dan orang-orang Yahudi. Melalui Injilnya ini, penulis menggambarkan perjalanan hidup Yesus Kristus dari permulaan sampai pada penyaliban dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan banyak orang.

 

Bacaan kita, Yohanes 12:20-36, adalah bagian dari keseluruhan Injil Yohanes yang menceritakan peristiwa ketika Yesus berbicara tentang kematian-Nya yang akan datang dan makna dari mengorbankan-Nya. Pemberitahuan tentang kematian Yesus seringkali sulit dipahami oleh para murid-Nya, yang pada saat itu masih memiliki pengharapan bahwa Mesias akan menjadi raja yang memerintah secara duniawi. Namun, Yesus menekankan bahwa kematian-Nya adalah jalan menuju kehidupan kekal dan kemenangan atas dosa serta maut. Dengan memberitahukan bahwa kematian-Nya akan tiba, Yesus menegaskan tentang penderitaan dan kematian-Nya sebagai bentuk ketaatan-Nya atas kehendak Bapa-Nya. Ini juga bentuk kesadaran akan misi-Nya, dan kasih-Nya yang besar bagi seluruh umat manusia. Selain itu, dengan memberitakan kematian-Nya, Yesus mengundang para pengikut-Nya untuk memahami dan menerima penderitaan sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah, dan untuk meneladani ketaatan serta pengorbanan-Nya.

 

Ayat 20-22 menjelaskan bahwa Yesus Kristus tidak hanya sosok yang penting bagi orang Yahudi tetapi juga bagi beberapa orang Yunani. Selain datang untuk merayakan Paskah, mereka ingin bertemu dengan Yesus. Mereka mengunjungi Filipus yang kemudian bersama Andreas, menyampaikan permintaan itu kepada Yesus. Orang Yunani di sini mewakili bangsa-bangsa non-Yahudi yang tertarik untuk mengenal Yesus Kristus lebih dekat.

 

Yesus bertemu dengan mereka dan memberikan beberapa kata. Ia menegaskan bahwa telah tiba saatnya bagi Anak Manusia untuk dimuliakan (ayat 23). Pernyataan ini Merujuk pada kematian-Nya di kayu salib, yang akan membawa kemuliaan bagi-Nya. Agar mereka mengerti perkataan Yesus, Ia menggunakan analogi biji gandum yang harus mati agar dapat menghasilkan banyak buah. Ini menggambarkan bahwa kematian-Nya akan membawa kehidupan bagi banyak orang. Gambaran ini juga bermaksud menjelaskan kepada mereka bahwa siapa yang mencintai nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa yang membenci nyawanya di dunia ini akan mempertahankannya untuk hidup yang kekal (ayat 25). Kata benci di sini menggunakan kata Yunani mison yang artinya: benci (benci, benci); menolak (menolak); dan tidak memilih (tidak memilih). Kata ini bisa dipahami sebagai tindakan yang tidak memilih atau tidak menjadikan nyawanya atau kehidupannya sebagai yang utama. Oleh karena itu, teks ini mengajak para murid dan pengikut Yesus untuk menyerahkan hidup mereka hanya kepada-Nya (ayat 24-26).

Halaman:

Terkini