Sulutzonecom -- Bulan Ramadan tahun ini membawa dinamika menarik bagi pasar kripto, khususnya Bitcoin. Meskipun data historis menunjukkan tren penurunan harga selama Ramadan dalam lima tahun terakhir, tahun 2025 menghadirkan kejutan. Bitcoin sempat mengalami lonjakan signifikan, kembali ke level US$ 90.000 setelah sebelumnya tertekan di bawah US$ 80.000.
CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk psikologi pasar dan sentimen geopolitik. Tren penurunan yang sering terjadi selama Ramadan diduga terkait dengan berkurangnya minat investor ritel, yang memicu tekanan jual.
Namun, sentimen positif terkait rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengusulkan cadangan kripto nasional telah mengubah arah pasar. "Tahun ini ada elemen geopolitik yang sangat kuat dalam pergerakan pasar kripto. Jika benar ada langkah serius dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjadikan aset digital sebagai bagian dari kebijakan moneter, dampaknya akan sangat besar bagi industri kripto secara global," jelas Oscar.
Selain itu, kebijakan ekonomi global, seperti kenaikan tarif impor oleh AS, juga turut mempengaruhi volatilitas harga. Oscar menekankan pentingnya bagi investor untuk memahami kaitan erat antara kripto dan kebijakan ekonomi makro.
Meskipun sentimen bullish terlihat kuat, volatilitas tetap menjadi tantangan. Investor perlu menerapkan strategi manajemen risiko yang baik, termasuk diversifikasi portofolio. Oscar juga menyoroti perubahan paradigma di mana Bitcoin mulai diperhitungkan sebagai aset safe haven oleh investor institusional.
Artikel Terkait
Hadir di Launching JPP, Wamendag Jerry Sambuaga Ungkap Potensi Luar Biasa Aset Kripto Sebagai Komoditas
5 Fakta Terkini Geng Rusia Diduga Culik Turis WNA di Bali, Salah Satunya Sempat Paksa Korban Transfer Kripto Rp3,4 M!
Robert Kiyosaki Ramal Harga Bitcoin, Emas, dan Perak Akan Turun? Ini Analisisnya!
Negara Kecil Ini Menjadi Kaya Berkat Bitcoin