JAKARTA - Analis komunikasi politik, Dr. Hendri Satrio, atau yang akrab disapa Hensa, menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk lebih sering berkomunikasi langsung dengan media massa ketimbang melalui influencer sebagai upaya meredakan kegelisahan publik.
Menurut pendiri Lembaga Survei KedaiKopi ini, media masih menjadi jembatan utama yang efektif untuk menyampaikan pesan pemerintah kepada masyarakat. Intensitas komunikasi yang kuat diyakini akan membuat pesan lebih mudah dipahami oleh rakyat.
"Saya ajukan dua solusinya. Jadi yang pertama, Pak Prabowo harus berkomunikasi dengan intens kepada para jurnalis di media massa karena dengan kondisi saat ini, media massa lah yang bisa menenangkan masyarakat, menenangkan rakyat," ujar Hensa dalam sebuah wawancara dengan aboutmalang.com.
Hensa menilai bahwa sejak era Presiden Joko Widodo hingga saat ini, media massa kerap terpinggirkan dari lingkaran kekuasaan. Padahal, ia menekankan, media memiliki peran strategis untuk menjembatani pemerintah dengan rakyat.
"Selama ini, penguasa dari zaman Pak Jokowi, kemudian sekarang diteruskan ke Pak Prabowo, seolah-olah seperti melupakan media massa sebagai kekuatan," tambahnya.
Media Formal Lebih Dipercaya Publik
Hensa menegaskan bahwa komunikasi yang lebih terbuka dengan media adalah kunci penting untuk meredakan ketegangan publik dan menjaga legitimasi kepemimpinan nasional. Pandangan ini didukung oleh survei dari Indonesian Presidential Studies (IPS) UGM pada tahun 2022.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 74,4 persen publik masih lebih memercayai media formal seperti TV, radio, dan koran, jauh lebih tinggi dibandingkan media sosial yang hanya meraih tingkat kepercayaan sebesar 12,7 persen. Temuan ini semakin menguatkan argumen Hensa bahwa media formal tetap menjadi saluran komunikasi paling efektif untuk menjangkau dan meyakinkan masyarakat luas.