“Tidak adil bagi anak-anak bangsa ini, cucu-cucu kita, menanggung beban sebesar ini hanya karena dulu tidak ada yang berani bersuara,” terang Akbar Faizal.
Di sisi lain, kini akar persoalan Whoosh bukan semata pada utang atau bunga pinjaman, melainkan pada keputusan kebijakan dan model pembiayaan yang sejak awal dianggap tidak transparan.***
Artikel Terkait
Nelayan Meninggal di Keroyok, 2 Pelaku Diamankan Resmob Polresta Manado
Prabowo Ingatkan Aparat Hukum Tak Dzolim: Jangan Kriminalisasi Rakyat Kecil, Penegak Hukum Harus Punya Hati
Penipuan Digital Semakin Mengganas: Rp7 Triliun Raib, Indonesia Puncaki Laporan Scam Global
Kejagung Menyita Aset 1 Bidang Tanah Milik Anak Riza Chalid dalam Kasus Dugaan Korupsi Minyak
Wacana Pemutihan Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan: Pemerintah Masih Tahap Hitung, Dirut Sebut Beban Capai Rp10 Triliun
Whoosh: Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi
Prabowo Sebut Karakter Bangsa Indonesia Terlalu Baik dan Ingatkan Anak Muda Jangan Jadi Pemimpin yang Lugu
IFG dan Bahana TCW Dorong Tata Kelola Investasi Asuransi Berbasis Risiko Lewat CFO Forum AAUI 2025
Kemelut Kereta Cepat Whoosh: Mahfud MD Sebut KPK Aneh hingga Persilakan Lembaga Antirasuah Panggil Dirinya
Timothy Anugerah dan Skandal Perundungan di UNUD, Cerminkan Bullying Bukan Sekadar Pelanggaran Etika