Sulutzonecom -- Tragedi longsor yang terjadi di area tambang batu alam di Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, telah merenggut banyak korban. Hingga Minggu (1/6/2025) pagi, tercatat 19 orang tewas dan 7 orang luka-luka, sementara 6 orang masih dalam pencarian. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (30/5/2025) pukul 10.00 WIB dan menyebabkan kerusakan pada alat berat seperti excavator dan dump truck.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi mengungkapkan penyebab utama dari longsor yang terjadi di lokasi tambang ini. Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa Cirebon termasuk dalam zona kerentanan tanah tinggi, yang berarti daerah ini memiliki potensi tinggi untuk mengalami gerakan tanah.
Penyebab Longsor: Curah Hujan dan Kemiringan Lereng
Wafid menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab longsor adalah curah hujan yang di atas normal. Ketika hujan turun deras, tanah yang sudah lama terpendam bisa kembali bergerak. "Pada zona ini, jika curah hujan di atas normal, maka gerakan tanah lama dapat aktif kembali," ujar Wafid dalam keterangannya.
Faktor lain yang memperburuk situasi adalah kemiringan lereng tebing di area tambang yang sangat terjal, yakni lebih dari 45 derajat. Di samping itu, metode penambangan dengan teknik under cutting yang digunakan di lokasi ini juga memperbesar potensi terjadinya longsor.
Potensi Longsor Susulan dan Evakuasi Korban
Badan Geologi mengimbau masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena daerah tersebut masih berpotensi mengalami longsor susulan. Wafid juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam proses evakuasi dan pencarian korban. "Evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada saat atau setelah hujan deras, mengingat kemungkinan adanya longsor susulan yang dapat menimpa petugas evakuasi," tambahnya.
Sebagai langkah lebih lanjut, Kementerian ESDM telah mengirimkan tim Inspektur Tambang untuk melakukan investigasi lapangan guna memastikan apakah kegiatan pertambangan tersebut telah mematuhi standar keselamatan yang berlaku. Inspektur Tambang ini juga akan memeriksa apakah izin pertambangan dan teknik yang diterapkan di lapangan sudah sesuai dengan peraturan yang ada.
Kementerian ESDM Mengungkap Duka Cita Mendalam
Di tengah proses evakuasi yang masih berlangsung, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan duka cita mendalam atas musibah ini. "Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah longsor yang terjadi di wilayah Izin Usaha Pertambangan milik Koperasi Pondok Pesantren Al-Azhariyah di Gunung Kuda. Tim Inspektur sedang bekerja untuk mendalami kasus ini," ujarnya.
Pengawasan Ketat terhadap Pertambangan
Kementerian ESDM menegaskan bahwa setiap kegiatan pertambangan wajib mematuhi kaidah pertambangan yang baik, salah satunya dengan memastikan kegiatan pertambangan dilakukan dengan teknik yang aman dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Untuk itu, pengawasan terhadap Izin Usaha Pertambangan (IUP) harus dilakukan dengan ketat oleh pemerintah daerah dan instansi terkait.
Update Korban dan Status Pencarian
Sampai berita ini diturunkan, Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban yang masih tertimbun. Menurut informasi terbaru, dua jenazah korban berhasil ditemukan pada Minggu pagi, menambah jumlah korban tewas menjadi 19 orang. Proses evakuasi dan pencarian masih berlangsung, dengan harapan dapat menemukan korban-korban yang masih hilang.
Sebagai langkah pencegahan, Kementerian ESDM juga mengingatkan pentingnya untuk menerapkan kaidah pertambangan yang baik, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Artikel Terkait
Jalan Tol Manado-Bitung Km 37 Tertutup Longsor, Masyarakat Diimbau Gunakan Jalan Lain
Banjir dan Tanah Longsor Melanda Brasil Selatan, Korban Tewas Mencapai 56 Orang
Sulsel Terdampak Banjir dan Longsor, PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik
Setelah Api Kebakaran Los Angeles, Rumah yang Selamat di Palisades Kini Hadapi Ancaman Tanah Longsor, Bangunan Sampai Terbelah Dua
Tragedi Longsor Pekalongan: 22 Tewas, Pencarian Korban Masih Berlanjut
Status Tanggap Darurat Bencana 14 Hari untuk Longsor Pekalongan, Proses Pencarian Korban Hilang Masih Berlanjut, Ada Modifikasi Cuaca yang Dilakukan
Warning dari BMKG, Begini Tanda-tanda Awal Banjir Bandang dan Tanah Longsor, Antisipasi Potensi Bencana yang Memakan Korban
Polsek Tikala Respon Cepat Tangani Longsor di Ranomut, Satu Rumah Terdampak
Wali Kota Manado Tinjau Langsung Kondisi Pemukiman dan Longsor Akibat Hujan Lebat
Wawali Manado Tunjukkan Kepedulian pada Korban Longsor Malendeng