Makam Terdalam: Tempat Terakhir Bagi Satelit di Point Nemo

photo author
David Lombogia, Sulut Zone
- Minggu, 1 September 2024 | 12:18 WIB
Penjelajah pertama Point Nemo asal inggris, Chris Brown dan anaknya (ist)
Penjelajah pertama Point Nemo asal inggris, Chris Brown dan anaknya (ist)

SULUTZONE -- Di tengah-tengah Samudra Pasifik yang luas, terdapat sebuah kuburan diam yang tersembunyi, tempat di mana satelit-satelit yang sudah tidak terpakai lagi menemukan tempat peristirahatan terakhir mereka.

Lokasi yang sunyi dan terpencil ini dikenal sebagai Point Nemo, tempat yang paling terisolasi di Bumi, sebuah tempat yang begitu sulit dijangkau sehingga bahkan daratan terdekat, sebuah pulau kecil yang dihuni oleh burung-burung, merupakan perjalanan laut yang melelahkan selama berhari-hari.

Keisolasiannya begitu mendalam sehingga Point Nemo sebenarnya lebih dekat dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) saat melintas di atas kepala, hanya 415 kilometer jauhnya.

Baca Juga: Paslon pertama dari Tomohon, WLMM Tes Kesehatan di RSUP Prof Kandou

Fitur geografis yang unik ini telah menjadikannya sasaran utama bagi industri antariksa, menjadi tempat pembuangan yang ditentukan untuk puing-puing antariksa.

Kuburan Puing-Puing Antariksa

Sejak tahun 1970-an, program antariksa global telah mengirimkan pesawat luar angkasa yang sudah pensiun, termasuk stasiun luar angkasa dan satelit, ke tempat ini, tepat di Point Nemo.

Baru-baru ini, NASA mengumumkan bahwa ISS, setelah 25 tahun mengorbit, akan bergabung dengan kuburan bawah air ini pada tahun 2031.

Baca Juga: KKN Undip Kembali Viral, Kali Ini Soal Video dan Dugaan Kehamilan di Luar Nikah

Stasiun luar angkasa berukuran 109 meter dengan berat 419.725 kg itu akan menjadi tambahan terbesar ke koleksi puing antariksa di Point Nemo.

Meskipun menenggelamkan wahana antariksa ke dalam lautan mungkin terlihat sebagai langkah ekstrem, namun ini merupakan alternatif yang lebih aman daripada membiarkannya terus mengorbit Bumi.

Dengan lebih dari 40.000 objek buatan manusia yang beredar di sekitar planet kita saat ini, semakin padatnya puing antariksa meningkatkan risiko tabrakan yang dapat memicu serangkaian tabrakan yang merusak.

Baca Juga: Difasilitasi KPU Minut, Bakal Cakada JG-KWL Jalni Tes Kesehatan

Oleh karena itu, kedalaman laut yang terpencil ini menjadi solusi terbaik untuk mengurangi risiko jatuhnya wahana antariksa.

Zona Mati di Lautan

Namun, apakah Point Nemo benar-benar tempat yang ideal untuk menenggelamkan wahana antariksa, mengingat kehidupan laut yang ada di sana? Penelitian menunjukkan bahwa ada alasan lain mengapa Point Nemo menjadi kuburan satelit yang ideal.

Arus laut yang lemah dan keterpencilannya dari daratan membatasi aliran nutrisi ke wilayah tersebut.

Baca Juga: Tutup Pendaftaran, KPU Minut Terima Berkas 2 Paslon

Ditambah dengan sinar UV yang kuat, menjadikannya lingkungan yang menantang bagi kehidupan laut.

Biomassa yang sangat rendah di wilayah ini menunjukkan keanekaragaman hayati yang minim.

Penjelajah Pertama di Point Nemo

Meskipun terisolasi, penjelajah asal Inggris, Chris Brown dan anaknya, telah mencatat sejarah dengan menjadi orang pertama yang mencapai Point Nemo.

Baca Juga: Klarifikasi KPU Minut, Buntut Istri Paslon yang Masuk Ruang Pendaftaran Bakal Calon Cakad

Dalam unggahan media sosialnya, pengusaha berusia 61 tahun itu menyatakan kepuasannya atas pencapaian ini.

Perjalanan Brown ke Point Nemo merupakan bagian dari ambisinya untuk mengunjungi delapan kutub Bumi yang tidak dapat diakses.

Dengan pencapaian terbarunya di Point Nemo, Brown kini telah mengunjungi kutub yang tidak dapat diakses di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia.

Baca Juga: Arsenal Kehilangan Declan Rice, Ditahan Imbang Brighton di Emirates

Kutub Eurasia dan Arktik menjadi tantangan berikutnya yang menanti.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: David Lombogia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Presiden Prabowo Dikabarkan Kunjungi Sulut

Jumat, 8 Mei 2026 | 09:38 WIB
X