"Di satu sisi, dari sudut pandang moral, melihat apa artinya ini bagi seluruh warga Argentina, kami ingin Argentina menjadi juara," kata Olmos. "Warga Argentina layak mendapatkan sukacita."
Dan seperti yang diprediksi, ucapan sang menteri dibalas dengan rentetan kritik.
Meski demikian, warga Argentina memadati stadion tempat pertandingan tim mereka, juga di bar, rumah bahkan di 'fan zone' yang berada di Buenos Aires.
Sebagian besar dari para fan itu tak mampu membeli tiket ke Qatar karena hidup di negara di mana rata-rata gaji rakyatnya sekitar 66.500 peso, atau kurang lebih enam juta rupiah.
"Masyarakat paham betul masalahnya" tapi sepak bola dan situasi ekonomi "berada di jalur paralel, mereka tidak bertemu," kata Lucrecia Presdiger (38), seorang tenaga medis rumah sakit kepada AFP setelah kemenangan Argentina pada laga perempatfinal melawan Belanda.
"Banyak orang membutuhkan sukacita ini dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Tapi mereka tahu ini hanyalah sepak bola, mereka sangat paham dari masalahnya," kata Presdiger, seraya menambahkan: "Anda tidak boleh menganggap mereka bodoh."
Bagi Tony Molfese yang seorang desainer, kemenangan Argentina akan membawa kelegaan, angin segar, sukacita, bahkan untuk sementara. "Dan kami layak mendapatkannya," kata dia.
Olmos membandingkannya dengan kesuksesan pertama Argentina di Piala Dunia pada 1978, ketika negaranya dipimpin oleh seorang diktator militer.
"Kami berada di bawah kediktatoran, dipersekusi, kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi Argentina menjadi juara dan kami keluar untuk merayakannya di jalan-jalan," ingat dia.
Terlepas dari hasrat besar yang mengilhami sepak bola, itu tetap hanya sebuah permainan, menurut penulis Ariel Scher.
"Sepak bola memberikan kegembiraan individu dan kolektif, tetapi kegembiraan itu bersifat sementara, itu tidak menghilangkan masalah lain yang ada," kata Scher yang merupakan seorang dosen universitas dan spesialis sepak bola kepada AFP.
"Seperti ketika anak-anak kita lulus ujian: kita senang tapi itu tidak membayar tagihan kita."
Kekuatan dari sepak bola adalah "memberikan kita kesempatan kebahagiaan yang bersifat baik itu sementara dan abadi," kata Scher.
"Tidak ada masalah yang akan dipecahkan atau dihilangkan tapi pada waktu yang sama, bahkan secara singkat, itu membuat kita terpesona dengan sesuatu yang meninggalkan kenangan abadi."
Survei yang dilakukan pada November memperlihatkan bahwa lebih dari tiga perempat warga Argentina mengatakan nasib negara mereka di Piala Dunia akan berdampak terhadap moral warganya.