Fery kemudian bertanya kenapa Ade meninggalkan Dea sendirian di rumah. Alasan Ade pun terdengar makin tak masuk akal.
"(Fery bertanya) 'Terus lu ngapain keluar? Kok bisa ninggalin Mbak Dea, bukan diam di rumah?' (Ade menjawab) 'Disuruh Mbak Dea, Mas beli susu.'" tutur Fery.
Dia pun merasa ada beberapa kejanggalan. Pertama, Ade ingat plat nomor mobil yang datang ke rumah. Kedua, Fery tahu Dea tidak suka minum susu jadi tidak mungkin minta tolong dibelikan susu.
Sesampai di rumah, Ade juga menyebut kunci rumah yang dibawanya hilang, sehingga menyarankan Fery untuk memakai kunci yang disatukan dengan gantungan kunci motor.
"Kemudian aneh, istri saya nggak keluar. Biasanya mendengar bunyi atau saya pulang, (Dea) pasti bukan gorden dulu sebelum buka pintu. Ini nggak ada sama sekali. Pikiran udah mulai panik," imbuh Fery.
Pelaku Sempat Akting Panik
Setelah Fery masuk ke rumah, dia menemukan istrinya sudah bersimbah darah. Tubuhnya ditutupi kain. Wajahnya luka-luka. Sementara si ART Ade tetap berada di luar dan bersikap panik.
"Ade nggak masuk rumah tuh, dia malah guling-guling di depan saat tahu istri saya meninggal. Dia pukul-pukul kepalanya sendiri kayak stres gitu," katanya.
Fery kemudian mencoba mengecek CCTV, tapi ternyata kabel listriknya tak tersambung. Dari situ, Fery langsung mencurigai orang dalam yang tak lain adalah Ade. Dia juga menyebut dua orang lain yakni Fadel dan istri Fadel.
"Polsi datang dan saya ditanya curiga ke siapa. Saya jawab ke Ade, ke Fadel, dan istri Fadel. Ade karena kejanggalan, Fadel karena curiga yang cerita ancaman itu. Fadel dan istrinya," ungkap Fery.
Motif Pembunuhan Terkait Gaji
Satreskrim Polres Purwakarta langsung menangkap Ade Mulyana di wilayah Jatiluhur. Menurut Kasi Humas Polres Purwakarta AKP Enjang Sukandi, Ade ada di lokasi dan tidak berusaha bersembunyi.