MANADO — Fenomena cuaca panas ekstrem (El Nino) yang melanda berbagai wilayah memicu kekhawatiran melambungnya laju inflasi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Pengamat Ekonomi Sulut, Gerdi Worang, menilai kenaikan harga pada komoditas pertanian, khususnya hortikultura dan pakan ternak, menjadi pemicu utama berputarnya siklus inflasi di daerah.
"Itu hal biasa. Inflasi itu pasti terjadi karena kenaikan harga hortikultura disebabkan El Nino, panas. Kita perkirakan akan lebih dari biasanya, kan biasa 5 persen ini pasti 10 persen kenaikan harga hortikultura. Beras akan naik konstan," ujar Gerdi Worang.
Menurut Gerdi, persoalan di sektor pertanian komoditas hortikultura maupun tanaman pangan seperti padi tidak bisa diselesaikan melalui pemecahan masalah serba instan. Proses produksi dan pembenahan sektor ini memerlukan waktu yang bertahap.
Dinamika Data Aktual BPS Sulut
Pernyataan pengamat tersebut sejalan dengan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Sulawesi Utara per 1 September 2026. BPS mencatat tingkat inflasi bulanan (m-to-m) Sulut pada Agustus 2026 berada di angka 0,29 persen, dengan kenaikan utama didorong oleh cabai rawit (andil 0,33 persen) dan kangkung (andil 0,14 persen) akibat berkurangnya pasokan dari efek cuaca kemarau.
Namun demikian, data BPS juga merekam adanya faktor penahan laju inflasi. Melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi seperti Minahasa membuat komoditas tomat justru mengalami penurunan harga dan menjadi penahan inflasi bulanan terbesar (andil -0,48 persen). Selain itu, secara tahunan (y-on-y), komoditas beras juga mencatatkan andil deflasi sebesar -0,22 persen.
Soroti Minimnya Bantuan Pemerintah Pusat
Lebih lanjut, Gerdi menyoroti pentingnya keterlibatan pemerintah dalam membangun infrastruktur pertanian di daerah yang dinilai masih minim perhatian pusat. Selain itu, ketidakpastian pasokan pupuk berkala turut menjadi kendala utama dalam keberlanjutan pembangunan pertanian.
"Pemecahan masalah secara instan tidak ada. Kalau soal pertanian komoditas hortikultura tidak bisa instan karena makan waktu proses, contoh padi. Membangun infrastruktur untuk di daerah itu makan waktu, dan bantuan dari pusat itu kurang untuk infrastrukturnya. Infrastruktur pertanian harus dibuat," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pasokan pupuk wajib diberikan secara berkelanjutan tanpa terputus. "Suplai pupuk musti secara berkala. Jangan tahun ini ada tahun depan tidak ada, jadi tidak ada keberlanjutan pembangunannya. Semua tanaman musti ada pupuk," imbaunya.
Dampak El Nino tidak hanya memukul sektor tanaman pangan dan hortikultura, tetapi juga merembet ke sektor peternakan. Kenaikan harga bahan baku pakan ternak dipastikan bakal membebani para peternak lokal.
Gerdi secara khusus mendorong pemerintah daerah untuk memberikan kepastian dan perlindungan bagi para peternak babi, salah satunya yang berada di Kecamatan Sonder.
"Peternak babi di Kecamatan Sonder perlu kepastian pemerintah. Harga pakan ternak juga pasti naik akibat El Nino, pasti inflasi. Begitu siklusnya," pungkas Gerdi.