Sulutzone.com -- Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menghadapi awal pekan yang berat.
Harga saham salah satu bank terbesar di Indonesia ini terus mengalami koreksi setelah pasar diwarnai dua isu sensitif: kemunculan kembali skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan laporan penjualan saham dalam jumlah besar oleh Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja.
Menurut data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham BBCA telah turun lebih dari 3,43% dalam delapan hari bursa terakhir, ditutup pada Rp8.450 pada 22 Agustus 2025. Penurunan ini memicu pertanyaan dan spekulasi di kalangan investor.
Aksi Jual oleh Petinggi BCA
Tekanan terhadap BBCA makin kuat setelah laporan resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa Jahja Setiaatmadja telah menjual satu juta lembar saham BBCA. Transaksi yang dilakukan pada 12 Agustus 2025 dengan harga Rp8.750 per saham ini diklaim sebagai diversifikasi portofolio pribadi. Namun, fakta bahwa harga saham BBCA saat ini jauh lebih rendah dari harga jual direksi memicu kekhawatiran.
Banyak pihak menduga bahwa aksi jual ini merupakan sinyal dari dalam manajemen bahwa tekanan harga saham akan berlanjut. Spekulasi ini semakin ramai, menunjukkan minimnya kepercayaan pasar terhadap kondisi internal bank.
Skandal BLBI Kembali Mencuat
Di saat yang sama, pernyataan keras dari ekonom senior Sasmito Hadinagoro terkait skandal BLBI kembali menghebohkan publik. Sasmito mendesak pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto untuk meninjau ulang akuisisi BCA. Ia berpendapat bahwa 51% saham BCA dijual terlalu murah, merugikan negara, dan menuntut agar saham tersebut dikembalikan ke pangkuan negara.
Meskipun pihak BCA telah mengirimkan surat klarifikasi kepada BEI, menegaskan bahwa transaksi di masa lalu dilakukan secara transparan dan sesuai valuasi pasar, sentimen negatif tetap sulit dibendung. Pernyataan tersebut gagal menahan laju penurunan harga saham BBCA.
Analisis dan Prospek Saham BBCA
Secara teknis, saham BBCA sedang berada di ambang level kritis. Jika level dukungan di Rp8.400-8.450 jebol, harga berpotensi turun lebih dalam ke Rp8.200. Sebaliknya, area Rp8.550-8.600 menjadi level yang harus dilewati jika ada tanda-tanda pemulihan.
Untuk awal pekan, sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh reaksi investor terhadap laporan penjualan saham oleh manajemen dan isu BLBI yang terus berlanjut. Investor ritel disarankan untuk berhati-hati, mengingat isu hukum dan kepemilikan bisa menjadi katalisator tekanan jual yang lebih kuat.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Artikel Terkait
Meriakan HUT ke - 80 RI, Pemkab Talaud Gelar Lomba Idol.
Jaga Stabilitas Pasokan dan Harga Beras, GPM di Gelar GPM di 2 titik di Kecamatan Essang dan Essang Selatan Talaud
Sasmito Hadinagoro: Aksi Lawan Lupa atas Kasus BLBI dan BCA Gate Kembali Mencuat
Saham Dijual Rp10 Triliun, RI Tanggung Rugi Rp78 Triliun : Menguak Utang BLBI BCA ke Negara
Kado HUT RI, PLN Salurkan Bantuan Pasang Listrik Gratis 2.821 Keluarga Prasejahtera di Seluruh Indonesia
Sambungan Listrik Gratis untuk 2.821 Keluarga Prasejahtera Jadi Kado Termanis di HUT RI ke 80 dari PLN
Apresiasi Luar Biasa dari Pemerintah Daerah untuk Program Pasang Listrik Gratis PLN
Dari Donasi Pegawai, Program PLN Terangi 2.821 Keluarga Prasejahtera Sebagai Kado HUT RI
Bupati Welly Titah Luncurka Gerakan Menanam Cabai di Desa Daran Talaud.
Pemkab Talaud Jamin Transparansi Penyaluran Santunan Rp215 Juta dari PT. SPI bagi Korban KM Barcelona VA