Melonguane, Sulutzone.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud mengambil langkah strategis dalam merevolusi sektor perkebunan melalui pelaksanaan Sosialisasi Program Hilirisasi Kelapa Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Ebenhaeser Melonguane pada Kamis (30/7/2026) ini menjadi tonggak penting dalam mengubah paradigma pengelolaan kelapa dari sekadar bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: Puskesmas Wolaang Sosialisasikan Imunisasi Campak Rubela, Td, dan HPV di SD Inpres Amongena
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten Bidang Tata Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud, yang mewakili Bupati Welly Titah. Acara ini menghadirkan narasumber berkualitas, termasuk perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan RI, Dr. Hj. Triana Meinarsih, SE., M.Si., Ak., CPA., CERA., CFRM., CFA., QIA., serta Plh. Kepala Bidang Tanaman Tahunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara, Natalia Pangkerego, SP.
Dalam sambutan tertulisnya, Bupati Welly Titah menegaskan bahwa kelapa bukan hanya tanaman perkebunan biasa, melainkan identitas daerah dan warisan leluhur yang telah menghidupi masyarakat Talaud turun-temurun. Namun, ia menyayangkan bahwa selama ini pengelolaan kelapa masih didominasi oleh penjualan bahan mentah, sehingga nilai tambah ekonominya belum optimal dirasakan oleh petani.
“Berdasarkan data statistik, luas lahan kelapa di Talaud mencapai 26.181 hektar, dengan potensi perluasan lahan hingga 3.897,51 hektar. Potensi ini sangat besar, namun belum sepenuhnya dioptimalkan. Melalui program hilirisasi, kita ingin mengubah petani dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku usaha yang mandiri, modern, dan berdaya saing,” ujar Bupati dalam sambutannya.
Baca Juga: Kebakaran Landa Kawasan Hutan Lindung Gunung Soputan di Minahasa Tenggara
Untuk mendukung visi tersebut, Pemkab Talaud telah menyusun peta jalan komprehensif yang meliputi:
1. Penyediaan Bibit Unggul: Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah.
2. Program Peremajaan (Replanting): Memperbarui tanaman tua yang tidak lagi produktif.
3. Penanganan Hama Sexava: Melindungi aset perkebunan dari ancaman hama utama.
4. Dukungan Alsinta & Jalan Produksi: Memudahkan akses dan efisiensi panen.