“Film ini buat saya mengukur lagi kalau ternyata tidak ada orang tua yang toxic yang ada adalah orang tua yang mungkin belum mampu untuk belajar dan belum selesai untuk belajar.” tambah komunitas Ibu Punya Mimpi.
Tidak hanya memicu refleksi mendalam bagi para ibu, kejujuran emosional dalam film ini juga memberikan kejutan bagi penonton yang awalnya berekspektasi akan menonton film komedi saja, namun justru pulang dengan hati yang hangat dan tersentuh.
“Sebelum nonton mikirnya lucu tapi ternyata filmnya ada sedihnya juga. Aku kira karena Suka Duka Tawa akan banyak lucu terbahak-bahak tapi justru ada banyak juga part sedihnya.” pungkas perwakilan Komunitas Ibu2ID.
“Sebagai kacamata dari kita tim yatim, filmnya sangat hangat dan bikin sadar kalau orangtua mungkin punya pilihan terbaik yang mungkin belum tentu baik buat anaknya. Dan sebaliknya, kita sebagai anak harus bisa memaafkan kondisi orang tua karena ini adalah hidup mereka pertama kali sebagai orang tua dan ini juga kali pertama hidup kita sebagai anak.” ujar komunitas Parent Talk.
“Kalau aku pas bagian mereka karaoke itu ngingetin aku pas kecil sama almarhum papa ku juga karena suka karaokean bareng. Pas kecil aku suka banget karaokean bareng papa ku tapi sekarang sudah nggak bisa mengulangi lagi.” tutup perwakilan komunitas Parent Talk sambil menahan air mata.
Sutradara film Suka Duka Tawa, Aco Tenri juga mengungkapkan tentang kisah di balik terciptanya film ini, yang sangat personal, berangkat dari memori dan pengalamannya berinteraksi dengan sang Ayah.
“Papaku dulu sangat ‘militer’ dan keras. Ada satu kejadian yang membekas dan menjadi luka buatku. Di satu titik, keinginanku berkeliling ke festival film dan berkarya justru lahir dari kemarahan dan dorongan untuk membuktikan diri. Dari situ, film menjadi jalanku untuk tumbuh dan menemukan caraku sendiri,” kata Aco Tenriyagelli.