Meski berdarah Indo-Eropa, Ernest Douwes Dekker yang juga dikenal sebagai Douwes Dekker, mantap berpihak pada perjuangan rakyat Indonesia.
Lewat tulisan-tulisannya di surat kabar, ia lantang mengkritik ketidakadilan dan kebijakan diskriminatif penjajah.
Karena keberaniannya, ia sempat diasingkan ke Belanda. Tapi itu tak menghentikan langkahnya. Bersama Ki Hajar Dewantara dan Dr. Cipto Mangunkusumo.
Baca Juga: Kontroversi Kasino di Indonesia: Wacana untuk Tingkatkan Penerimaan Negara, Pro dan Kontra Muncul
4. Dr. Cipto Mangunkusumo
Satu lagi dokter yang memilih jalan perjuangan: Dr. Cipto Mangunkusumo.
Ia dikenal vokal melawan penjajahan dan turut mendirikan Indische Partij. Di Budi Utomo, ia juga sempat aktif sebelum akhirnya lebih fokus pada gerakan politik yang lebih radikal.
Dikenal sebagai “Dokter Rakyat”, Cipto tetap membela masyarakat kecil meski terus ditekan oleh kolonial.
Ia meyakini bahwa suara rakyat tidak boleh dibungkam dan dan ia berjuang untuk itu sampai akhir hayatnya.
Baca Juga: Simak 4 Poin Makna dalam Tema Harkitnas 2025
5. Ki Hajar Dewantara
Tak lengkap bicara tentang Kebangkitan Nasional tanpa menyebut Ki Hajar Dewantara. Pendiri Taman Siswa ini membuka jalan bagi pendidikan yang inklusif dan membumi-bukan hanya untuk kaum elite, tapi juga untuk rakyat jelata.
Semboyannya yang legendaris, *“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”*, masih menjadi pedoman pendidikan Indonesia hingga kini.
Ia juga pernah diasingkan karena tulisan-tulisannya yang tajam melawan kolonialisme, tapi semangatnya justru makin menyala
6. HOS Tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto adalah sosok karismatik yang memimpin Sarekat Islam (SI), salah satu organisasi massa terbesar di awal abad ke-20.