SulutZone.com - Bank Indonesia merilis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara (Sulut) pada triwulan IV 2023, mencapai 5,01% (yoy), meskipun mengalami perlambatan dari periode sebelumnya yang mencatat 5,40% (yoy), Sabtu, (01/06/2024).
Faktor utama penyebab perlambatan ini berasal dari sektor produksi padi, belanja modal, pengadaan semen, dan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan.
Di sisi permintaan, konsumsi kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut melambat di tengah penurunan investasi bangunan.
Baca Juga: Sulsel Terdampak Banjir dan Longsor, PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik
Secara keseluruhan pada tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Sulut tumbuh sebesar 5,48% (yoy), menguat dari tahun sebelumnya yang tumbuh 5,42% (yoy).
Sebagai penopang utama, sektor transportasi menunjukkan kinerja kuat sejalan dengan peningkatan mobilitas dan aktivitas MICE di Sulut, serta pertumbuhan konstruksi bangunan sipil.
Dari sisi permintaan, peningkatan belanja pegawai, belanja barang, aktivitas keagamaan, dan ekspor komoditas hortikultura menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulut.
Baca Juga: Ini Dia Terobosan Baru All New Honda Beat
Di sektor keuangan pemerintah, realisasi pendapatan dan belanja APBD Sulut mengalami penurunan.
Pendapatan daerah mencapai 95,08% dari target sementara belanja daerah sebesar 81,42% dari pagu anggaran.
Sementara itu, penerimaan negara di Sulut meningkat 11,27% (yoy), namun realisasi belanja APBN menunjukkan kinerja lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: Gelar Pesta Miras Bersama Laki-laki di Mapanget, Perempuan 19 Tahun Dicabuli Tuan Rumah
Dalam hal inflasi, Sulut mengalami dinamika harga yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Inflasi Kota Manado dan Kotamobagu meningkat pada triwulan IV 2023. Manado mencapai 2,87% (yoy), sementara Kotamobagu 3,40% (yoy).
Meskipun inflasi kelompok barang dan jasa terkendali, tekanan inflasi pada kelompok makanan dan perlengkapan rumah tangga tetap terjadi.