IHSG Anjlok 2,12 Persen, Investor Wait and See Saham Big Bank

photo author
Dedy Dagomes Manlesu, Sulut Zone
- Jumat, 7 Februari 2025 | 00:58 WIB
Ilustrasi IDX (Istimewa)
Ilustrasi IDX (Istimewa)

Jakarta, sulutzone.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,12% ke level 6.875,53 pada Kamis (6/2). Penurunan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari eksternal dan domestik.

Arus dana keluar (capital outflow) terus berlanjut, dengan investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 2,33 triliun di seluruh pasar.

Chief Executive Officer Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, menyoroti bahwa penurunan IHSG tidak terlepas dari melemahnya saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks). Pelemahan ini terjadi di tengah musim rilis laporan keuangan tahun 2024, mengindikasikan kinerja yang di bawah ekspektasi.

Selain itu, pasar juga masih terpengaruh oleh sentimen eksternal, seperti perang dagang yang memicu ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Investor juga mencermati perkembangan data-data perekonomian di Amerika Serikat (AS), terutama data pasar tenaga kerja untuk melihat sinyal perekonomian AS dan proyeksi suku bunga acuan ke depan.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menambahkan bahwa dinamika geopolitik dan makro ekonomi global di tengah perang dagang masih menjadi sorotan utama. Situasi ini mendorong investor untuk menarik dana dari pasar saham dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

Dari dalam negeri, Ekky melihat sentimen negatif juga berasal dari program populis yang diusung pemerintah. Program ini membutuhkan biaya tinggi, sementara pendapatan negara belum tentu mencukupi. "Jadi kekurangan dana membuat investor kurang percaya dengan situasi fiskal domestik," terang Ekky.

Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Tristan Elfan Zulvanian, menyoroti kondisi deflasi 0,76% secara bulanan pada Januari 2025 dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 sebesar 5,03%, yang lebih rendah dari target 5,20%. "Dua faktor ini memberikan tekanan besar pada IHSG, yang terlihat dari aksi jual di pasar," kata Tristan.

Vice President Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memprediksi pasar saham akan bergerak dinamis dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ia memperkirakan IHSG akan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dengan support 6.807 dan resistance 7.000 pada Jumat (7/2).

Secara teknikal, Praktisi Pasar Modal & Founder WH Project, William Hartanto, melihat IHSG sudah dalam tren downtrend dan akan bergerak pada rentang 6.800 - 6.972, dengan potensi melanjutkan pelemahan. Senada, Ekky melihat potensi pelemahan IHSG ke area support 6.700 - 6.800 dengan resistance di level psikologis 7.000. "Namun tidak menutup kemungkinan pasar mengalami teknikal rebound melihat penurunan telah cukup signifikan," kata Ekky.

Di tengah kondisi pasar saat ini, William dan Praska menyarankan untuk wait and see pada saham big bank. William menilai pelaku pasar masih layak melirik saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Sedangkan Audi merekomendasikan speculative buy pada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan MYOR.

Tristan melihat kondisi tertekan pada saham perbankan sebagai peluang untuk akumulasi, dengan saran untuk memecah antrian dan tidak membeli di satu harga. Ia merekomendasikan buy pada saham PT Chandra Asti Pacific Tbk (TPIA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reyhan Pratama, melirik saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dengan rekomendasi buy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Kontan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X