Sulutzonecom -- Siapa sangka, dua kuliner khas Indonesia, Tinutuan dan Paniki, justru masuk dalam daftar 100 makanan terburuk di dunia versi TasteAtlas, sebuah ensiklopedia makanan dunia. Berita ini tentu mengejutkan banyak orang, terutama masyarakat Sulawesi Utara, yang menganggap kedua makanan ini sebagai warisan kuliner yang kaya.
Tinutuan, bubur khas Manado yang kaya akan sayuran94 seperti bayam, labu, dan jagung, menduduki peringkat ke-16. Meskipun dianggap sebagai sarapan bergizi dan sangat populer di kalangan masyarakat lokal, Tinutuan ternyata kurang mendapat apresiasi dari para penilai di TasteAtlas.
Sementara itu, Paniki, hidangan eksotis berbahan dasar daging kelelawar, menempati posisi ke-36. Meski terdengar ekstrem, Paniki memiliki cita rasa yang unik dan merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Minahasa.
Beberapa faktor mungkin menjadi penyebab penilaian negatif terhadap kedua makanan ini:
- Cita rasa: Kemungkinan besar, cita rasa yang unik dan spesifik dari Tinutuan dan Paniki tidak sesuai dengan selera lidah orang asing.
- Bahan baku: Penggunaan daging kelelawar pada Paniki mungkin dianggap aneh atau menjijikkan oleh sebagian orang.
- Presentasi: Cara penyajian dan tampilan makanan juga bisa mempengaruhi penilaian.
Di balik penilaian negatif, Tinutuan dan Paniki memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Sulawesi Utara. Kedua makanan ini merupakan simbol identitas dan warisan kuliner yang telah diwariskan turun-temurun.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa selera makanan sangatlah subjektif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk budaya, pengalaman pribadi, dan ekspektasi. Namun, hal ini juga menunjukkan pentingnya menjaga dan melestarikan kekayaan kuliner Indonesia, termasuk makanan-makanan tradisional yang mungkin dianggap unik atau aneh oleh orang lain.