CERPEN -- Sejak usia sembilan bulan, hidupku berubah. Mama pergi merantau, mencari rezeki di negeri orang. Ayah, yang tenggelam dalam kesibukan pekerjaan, terpaksa menitipkanku pada Oma, ibunya. Tak disangka, Oma-lah yang kemudian mengambil alih peran ibu dan membesarkanku sepenuhnya.
Kami hidup sederhana, mengandalkan uang pensiun Opa, seorang mantan tentara. Meski begitu, Oma tak pernah kekurangan cara untuk membuatku dan Kakak bahagia. Aku, si bungsu yang manja, tumbuh menjadi anak yang kuat dan menyukai tantangan, berkat didikan Oma.
Sejak SD, Oma menjadi guru pertamaku. Ia mengajariku membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, ia menanamkan nilai-nilai kehidupan yang tak ternilai harganya. Ia mengajarku tentang kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang. Aku tak pernah memanggilnya Nenek, bagiku ia adalah Mama.
Baca Juga: CERPEN : Secercah Harapan di Tengah Pasar
Setiap kali aku meraih juara kelas, wajah Oma berseri-seri. Kebahagiaannya menjadi motivasiku untuk terus belajar dan berprestasi. Aku ingin membuatnya bangga.
Masa kecil dan remajaku kuhabiskan bersama Oma. Sempat beberapa tahun aku tinggal bersama Ayah dan Ibu tiri saat SMP, namun akhirnya aku kembali ke pelukan Oma saat SMA. Bagiku, rumah Oma adalah tempat ternyaman, tempat di mana aku merasa dicintai dan diterima apa adanya.
Setelah lulus SMA, aku mulai mengejar cita-citaku. Aku ingin sukses, aku ingin membahagiakan Oma. Namun, takdir berkata lain. Di saat aku mulai merintis karir dan berjuang meraih impian, Oma dipanggil Tuhan.
Kepergian Oma meninggalkan luka yang dalam. Aku merasa menyesal belum sempat membalas semua kebaikannya. Namun, di tengah kesedihan, aku teringat pesan-pesan Oma. Ia selalu berpesan agar aku sukses dan membuktikan pada orang-orang yang meremehkannya saat ia merawatku. Ia ingin aku menutup mulut orang-orang yang mencibirnya.
Baca Juga: CERPEN : Cinta di Negeri Ginseng
Pesan terakhir Oma terngiang di telingaku, “Oma pe tugas pa ngana so selesai. Ngana so sidi. Sekarang ini ngana yang harus berjuang sandiri. Wujudkan semua ngana pe cita-cita” (Tugas Oma untukmu sudah selesai. Kamu sudah dewasa. Sekarang kamu yang harus berjuang sendiri. Wujudkan semua cita-citamu). Kalimat itu menjadi mantra dan motivasiku hingga saat ini.
Dengan berbekal didikan Oma, aku terus berjuang. Aku merintis sebuah perusahaan media dari nol. Dengan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan, perusahaanku kini mulai berkembang pesat. Aku berhasil membangun sebuah perusahaan media yang cukup dikenal di Sulawesi Utara, dan bisa dibilang menjadi local hero.
Setiap kali aku meraih kesuksesan, aku selalu teringat Oma. Aku yakin, ia pasti bangga melihatku hari ini. Semua yang kuraih adalah berkat kasih sayang dan didikanmu, Oma. Terima kasih, Mama.
Baca Juga: PT. Tridi Media Indonesia Rayakan Anniversary ke-2: #LocalHero #FokusUMKM untuk Sulut Berkat
(Cerita kehidupan yang dibuat menggunakan AI Generated)
Artikel Terkait
Prakiraan Cuaca Manado Hari Ini, Jumat 17 Januari 2025: Waspada Hujan dan Petir
CERPEN : Cinta di Negeri Ginseng
Prabowo Ingin Proyek Infrastruktur Lebih Efisien: Swasta Silakan Bergerak!
Keluarga besar Polres Kepulauan Talaud mengadakan pesta kejutan untuk Kapolres AKBP Arie Sulistyo Nugroho yang berulang tahun ke-41
Prabowo di Munas Kadin: Jaga Kekompakan
Heboh! Tinutuan dan Paniki Masuk Daftar Makanan Terburuk Di Dunia , Ini Alasannya
Bripka Syahid Rela Badannya Dijadikan Jembatan. Irwasum Polri: Inilah Contoh Polisi yang Siap Melayani dan Melindungi Warga
Pertamina Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan, Tukar Minyak Jelantah Jadi Cuan
Tragedi Kebakaran Glodok Plaza: Enam Jiwa Melayang, Penyebab Masih Diselidiki
CERPEN : Secercah Harapan di Tengah Pasar