hukrim

Lautan Api di Ujung Perbatasan: Beo Selatan Gelar Taptu dan Pawai Obor Khidmat Sambut HUT ke-81 RI

Senin, 17 Agustus 2026 | 00:32 WIB
Camat Beo Selatan, Nance Dinding, SP Pimpin Upacara Malam Taptu dan Pawai Obor (Nelson Sangadi)

Talaud, Sulutzone.com – Semangat kemerdekaan berkobar terang di malam hari, Sabtu (15/8/2026). Kecamatan Beo Selatan, Kabupaten Kepulauan Talaud, menggelar upacara Penetapan Waktu (Taptu) dan Pawai Obor yang berlangsung meriah sekaligus khidmat di Lapangan sepak bola Desa Niampak. Rangkaian acara ini menjadi puncak dari euforia menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, menyatukan ribuan warga dalam satu barisan cahaya.

Upacara Taptu dipimpin langsung oleh Camat Beo Selatan, Mance Dinding, S.P., selaku Inspektur Upacara, dengan Serda Pestus Papia bertindak sebagai Komandan Upacara. Momen paling sakral terjadi saat Camat Mance Dinding menyalakan api obor secara simbolis kepada tiga perwakilan peserta. Nyala api tersebut bukan sekadar penerangan, melainkan simbol estafet perjuangan para pendahulu yang kini diteruskan oleh generasi muda Beo Selatan.

Usai upacara, pelepasan resmi rombongan pawai obor dilakukan oleh Anggota Polsek Beo, Aipda Rudi Amanga, didampingi Serda Pestus Papia dari Koramil 1312-03/Beo serta jajaran guru. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan adalah tanggung jawab bersama. Peserta pawai terdiri dari anggota Pramuka tingkat SD hingga SMA, pelajar, pegawai pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat umum.

Barisan panjang pembawa obor bergerak mengelilingi Desa Niampak, menciptakan pemandangan spektakuler "lautan api" yang membelah kegelapan malam. Di sepanjang rute, warga berbaris di tepi jalan, bersorak, dan mengibarkan bendera merah putih, menyambut arak-arakan dengan antusiasme tinggi. Cahaya obor memantul di wajah-wajah bangga, menegaskan bahwa semangat 45 tetap hidup di hati masyarakat perbatasan.

Pawai obor berakhir kembali di Lapangan sepak bola Desa Niampak untuk prosesi penutupan upacara. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar berkat koordinasi ketat antara Forkopimcam, panitia, dan masyarakat. Tidak ada insiden berarti; yang tersisa hanyalah rasa haru dan kebanggaan kolektif.

Camat Mance Dinding menyampaikan bahwa Taptu dan Pawai Obor bukan hanya tradisi tahunan, tetapi momen refleksi nasionalisme. "Cahaya obor ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan diraih dengan pengorbanan. Mari kita jaga nyala api semangat ini dalam membangun Beo Selatan dan Talaud yang lebih maju," ujarnya.

Malam Taptu di Desa Niampak telah membuktikan bahwa meski berada di garis depan NKRI, semangat kemerdekaan masyarakat Beo Selatan tak pernah padam. Justru, ia bersinar lebih terang, menerangi jalan menuju masa depan yang gemilang.

Tradisi Taptu (Taptoe) berasal dari bahasa Belanda tap toe yang berarti "tutup tong", awalnya digunakan sebagai sinyal bagi tentara untuk kembali ke barak. Di Indonesia, tradisi ini berkembang menjadi upacara penetapan waktu jelang Hari Kemerdekaan, ditandai dengan penyalaan obor dan pawai keliling sebagai simbol kewaspadaan dan semangat juang yang tak kenal lelah.

Tags

Terkini