Serangan Balik Bos Toko Bayi Millennium Babies and Kids : Isu Penahanan Ijasah Itu Hoax!

photo author
David Lombogia, Sulut Zone
- Sabtu, 18 Januari 2025 | 23:41 WIB
Mediasi Karyawan dan Pemilik Toko Bayi (Istimewa/Redaksi8.com)
Mediasi Karyawan dan Pemilik Toko Bayi (Istimewa/Redaksi8.com)

Manado, Sulutzone.com – Edwin Theyono, pemilik Millennium Babies and Kids, akhirnya buka suara terkait badai yang menerjang bisnisnya di media sosial. Posting-an viral di Facebook yang menuding tokonya menahan ijazah karyawan dan meminta tebusan, langsung dibantah mentah-mentah olehnya. Bagi Edwin, semua itu tak lebih dari HOAX yang sengaja dihembuskan mantan karyawan yang tidak bertanggung jawab. Informasi ini didapat dari media online redaksi8.com, yang menjadi satu-satunya sumber keterangan resmi pihak toko, setelah upaya konfirmasi langsung dari media sulutzone.com diabaikan dan hanya diberikan link berita redaksi8.com. (Owner Toko Millennium Babies and Kids Angkat Bicara – Redaksi 8)

Ia mengakui memang ada prosedur penitipan ijazah saat awal kerja, tapi itu atas dasar kesepakatan bersama dan selalu dikembalikan saat karyawan resign.

“Memang benar ada penitipan ijazah atas kesepakatan bersama antara pihak karyawan dan toko pada saat awal kerja, itu untuk melengkapi prosedur dari pihak kami, tapi setiap karyawan yang akan resign maka akan dikembalikan,” tuturnya, seperti dikutip dari redaksi8.com.

Baca Juga: Toko Pakaian di Kotamobagu Hangus Dilalap Sijago Merah

Namun, Edwin tak menampik adanya "urusan" antara toko dan beberapa mantan karyawan. Menurutnya, ada beberapa karyawan yang punya kasbon atau pinjaman pribadi yang belum dilunasi. “Jadi wajar diminta karena itu jadi tanggung jawab yang harus diselesaikan, Kami sudah berhati besar sebagai pihak yang memberi pekerjaan untuk menerima dan tidak mempersulit walaupun ada kerugian yang kami alami,” jelasnya, masih merujuk pada pemberitaan redaksi8.com.

Edwin juga menekankan bahwa semua "kewajiban" antara toko dan mantan karyawan sudah diselesaikan. Ia bahkan berterima kasih pada LSM Garda Timur Indonesia (GTI), khususnya Ketua Umum Fikri Alkatiri, yang disebutnya telah membantu menyelesaikan persoalan ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ivan, Humas DPP dan Ketua DPD Manado yang disebut sebagai mediator. Namun, patut dicatat, keterlibatan LSM ini justru mengindikasikan adanya masalah yang sebenarnya, bukan sekadar hoax seperti yang dituduhkan Edwin. Fakta bahwa mediasi oleh LSM dan pemberitaan oleh redaksi8.com diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini, justru memperkuat dugaan adanya penahanan ijazah, bukan membantahnya.

Baca Juga: PT. Tridi Media Indonesia: Solusi Branding Digital Terpercaya untuk UMKM

Yang menarik, saat media sulutzone.com mencoba meminta keterangan langsung dari pihak toko untuk keberimbangan berita, pihak toko justru memilih bungkam dan hanya memberikan link berita dari redaksi8.com. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa Edwin tidak memberikan keterangan langsung dan lebih memilih "bersembunyi" di balik pemberitaan media lain? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan?

Edwin berharap kejadian ini tidak terulang lagi dan menjadi pelajaran bagi semua pihak. Namun, dengan serangan balik berupa tuduhan hoax dan penolakan memberikan keterangan langsung ke media, justru menimbulkan kesan bahwa pihak toko sedang berusaha menutupi sesuatu. Fakta adanya pendampingan dari LSM GTI dan pemberitaan oleh redaksi8.com justru menjadi bukti kuat bahwa ada permasalahan yang lebih dari sekadar "ulah mantan karyawan nakal", seperti yang dituduhkan Edwin.

***
Baca Juga: Toko Perlengkapan Anak Tahan Ijazah Karyawan: Modus Potong Gaji Tak Manusiawi Terbongkar!
sebelumnya diberitakan, Sebuah praktik yang diduga kuat melanggar hukum dan etika bisnis mencuat di Manado.

Toko perlengkapan anak, Millenium Babies and Kids, dituding telah menahan ijazah karyawannya yang mengundurkan diri.

Modusnya, pemotongan gaji dengan alasan yang tidak masuk akal, bahkan mencapai jutaan rupiah dan melebihi gaji yang diterima.

Baca Juga:Polsek Pelabuhan Manado Gencar Razia Miras dan Barang Ilegal di Pelabuhan, Amankan 600 Botol Miras Cap Tikus

Kasus ini mencuat setelah salah satu akun media sosial memposting pengalamannya. Dalam postingan tersebut, terungkap bahwa manajemen toko mempersulit pengambilan ijazah dengan dalih karyawan harus membayar "kekurangan" atau "mines" toko yang nilainya fantastis.

"Mungkin hanya karena kesalahan sistem tapi sudah dibebankan kepada kami," ungkap akun tersebut, menggambarkan betapa beratnya beban yang ditanggung para karyawan. Ironisnya, gaji mereka hanya Rp 1.750.000.

Pengakuan serupa juga datang dari akun bernama Dhita. Ia bahkan pernah menerima gaji hanya Rp 200.000 dari seharusnya Rp 1.750.000 akibat banyaknya barang retur.

Baca Juga:Bhabinkamtibmas Polsek Tuminting Sukses Selesaikan Masalah dengan Pendekatan Problem Solving

Padahal, setiap menerima gaji, sudah dipotong Rp 100.000 dengan alasan antisipasi barang retur. Praktik ini jelas memberatkan dan dinilai tidak adil.

Pihak manajemen Milenium Babies and Kids membenarkan adanya penahanan ijazah dan pemotongan gaji.

Mereka berdalih hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kerugian akibat barang retur. "Supplier ada yang mau ambil barang ada yang tidak," kilah perwakilan manajemen. Alasan ini dinilai lemah dan tidak dapat dibenarkan.

Baca Juga:Bhabinkamtibmas Polsek Wenang Lakukan Binluh Kamtibmas Terkait Isu Penculikan Anak di Kel. Komo Luar

Kabar baiknya, setelah kasus ini viral dan mendapat pendampingan dari LSM GTI, para karyawan yang ijazahnya ditahan akhirnya dapat menerimanya kembali.

 

-
Pendampingan yang dilakukan pihak LSM (Ist)



Namun, kasus ini meninggalkan luka dan menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perlindungan hak-hak pekerja.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Dagomes Manlesu

Sumber: Redaksi8.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X