Memahami Kode Hammurabi, Hukum Pertama atau Tertua di Dunia

photo author
- Rabu, 10 September 2025 | 22:21 WIB
Hammurabi (standing), depicted as receiving his royal insignia from Shamash (or possibly Marduk). Hammurabi holds his hands over his mouth as a sign of prayer[1] (relief on the upper part of the stele of Hammurabi's code of laws) (Istimewa)
Hammurabi (standing), depicted as receiving his royal insignia from Shamash (or possibly Marduk). Hammurabi holds his hands over his mouth as a sign of prayer[1] (relief on the upper part of the stele of Hammurabi's code of laws) (Istimewa)

Ilmu -- Dalam sejarah peradaban kuno, nama Raja Hammurabi dari Babilonia (memerintah 1792–1750 SM) tidak hanya dikenal sebagai penakluk ulung, tetapi juga sebagai figur yang meletakkan fondasi bagi sistem hukum tertulis pertama di dunia, yang dikenal sebagai Kode Hammurabi. Kode ini, yang terdiri dari 282 hukum yang terukir di atas prasasti batu besar, memberikan gambaran mendalam tentang struktur sosial, keadilan, dan nilai-nilai masyarakat Mesopotamia kuno.

Penemuan dan Struktur Kode

Prasasti Kode Hammurabi ditemukan pada tahun 1901 di bawah reruntuhan kota kuno Susa. Batu diorit berwarna gelap ini dihiasi dengan ukiran huruf paku (cuneiform) yang berisi hukum-hukum tersebut. Di bagian atas prasasti, terdapat relief yang menggambarkan Hammurabi sedang menerima hukum dari dewa matahari dan keadilan, Shamash. Hal ini menunjukkan bahwa hukum-hukum tersebut dianggap memiliki asal-usul ilahi, memberikan otoritas absolut pada aturan yang tertulis.

Secara struktural, kode ini terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Prakata: Bagian ini mengagungkan Hammurabi sebagai raja yang dipilih oleh para dewa untuk membawa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  2. Kumpulan Hukum: Ini adalah inti dari kode, berisi 282 hukum yang mencakup berbagai aspek kehidupan, dari urusan keluarga, properti, hingga kejahatan dan hukuman.

  3. Epilog: Bagian penutup ini berisi kutukan bagi siapa saja yang berani mengubah atau melanggar hukum yang telah ditetapkan.

Prinsip-Prinsip Utama Hukum

Salah satu prinsip paling terkenal dari Kode Hammurabi adalah konsep "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (lex talionis). Prinsip ini sering kali disalahpahami sebagai seruan untuk balas dendam brutal, namun dalam konteks aslinya, ini adalah upaya untuk membatasi hukuman agar setara dengan kejahatan yang dilakukan. Artinya, hukuman harus proporsional. Namun, prinsip ini tidak berlaku secara universal. Hukuman seringkali bergantung pada status sosial individu yang terlibat. Misalnya, jika seorang bangsawan melukai seorang budak, hukumannya berbeda jika ia melukai bangsawan lain.

Berikut adalah beberapa contoh hukum dari kode tersebut yang memberikan wawasan tentang masyarakat Babilonia:

  • Tanggung Jawab Profesional: Jika seorang arsitek membangun rumah yang runtuh dan menyebabkan kematian pemiliknya, arsitek tersebut akan dihukum mati. Jika menyebabkan kematian anak pemilik rumah, maka anak dari arsitek tersebut yang akan dihukum mati. Ini menunjukkan adanya akuntabilitas yang ketat dalam profesi.

  • Hak Wanita dan Keluarga: Kode ini memberikan beberapa hak istimewa kepada wanita, seperti hak untuk mewarisi properti dan mengelola bisnis. Namun, wanita tetap tunduk pada otoritas laki-laki, terutama ayah dan suami mereka.

  • Hukum Perdagangan dan Utang: Seseorang yang berutang dapat membayar hutangnya dengan memberikan istri atau anaknya sebagai jaminan kepada kreditur selama tiga tahun. Setelah masa itu, mereka harus dibebaskan. Ini menunjukkan bahwa meskipun sistemnya keras, ada batasan yang jelas untuk mencegah perbudakan seumur hidup.

Signifikansi Historis

Kode Hammurabi merupakan tonggak penting dalam sejarah hukum. Sebelum kode ini, hukum seringkali tidak tertulis, tidak sistematis, dan mudah diubah-ubah oleh penguasa. Dengan adanya kode tertulis yang dipajang di tempat umum, hukum menjadi lebih transparan dan dapat diakses oleh semua orang. Hal ini merupakan langkah awal menuju gagasan "supremasi hukum," di mana tidak ada seorang pun, termasuk raja, yang berada di atas hukum.

Meskipun banyak aspeknya yang terlihat keras dari sudut pandang modern, Kode Hammurabi adalah bukti dari upaya peradaban kuno untuk menciptakan masyarakat yang teratur dan berkeadilan. Kode ini tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol sosial, tetapi juga sebagai pedoman moral dan etika yang memandu kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Hingga kini, prasasti asli kode ini dapat disaksikan di Museum Louvre di Paris, menjadi saksi bisu dari warisan hukum yang tak ternilai.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tria Anggreina Kawulusan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X