Sulutzone.com - Jakarta, MenKopUKM Teten Masduki telah mengajak Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) untuk mendukung program pembangunan industri skala menengah berbasis koperasi.
Dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di Jakarta, MenKopUKM menyampaikan kekhawatiran terhadap fenomena deindustrialisasi yang sedang terjadi di Indonesia.
Menurutnya, kontribusi industri terhadap ekonomi hanya sebesar 18 persen, sementara lapangan kerja semakin menurun, terutama di sektor UMKM.
Baca Juga: Paus Sekali Lagi Serukan Hentikan Perang di Gaza
Hal ini menjadi beban tersendiri bagi UMKM, terutama usaha mikro, karena semakin meningkatnya persaingan.
Teten Masduki juga menekankan bahwa untuk mencapai status negara maju pada tahun 2045, Indonesia harus mempersiapkan lapangan kerja berkualitas.
“Kita saat ini sedang mengalami problem deindustrialisasi. Kontribusi industri terhadap ekonomi saat ini hanya sebesar 18 persen, ketika industri terus menurun lapangan kerja sedikit, jumlah UMKM berpotensi semakin banyak, utamanya usaha mikro. Maka ini akan jadi beban bagi UMKM artinya akan semakin tinggi persaingannya,” kata MenKopUKM Teten
Saat ini, 97 persen lapangan kerja disediakan oleh UMKM, tetapi sebagian besar berada di sektor informal yang kurang produktif.
Baca Juga: Ini Kata Paus Soal Perang Rusia-Ukraina
Oleh karena itu, dibutuhkan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas agar Indonesia tidak gagal mencapai tujuan tersebut.
Salah satu langkah yang diambil adalah membangun industri skala menengah berbasis koperasi. Melalui program ini, pemerintah berupaya mengolah keunggulan domestik untuk menghasilkan barang setengah jadi hingga barang jadi guna memberikan nilai tambah dan membuka lapangan kerja lebih luas.
Contohnya adalah pabrik minyak makan merah yang didorong untuk dibangun, mengingat sebagian besar pemilik lahan sawit adalah rakyat.
Baca Juga: Polisi Hebat Semarang Kejar Gangster Tawuran, 7 Orang Diamankan, 1 orang Perempuan
Ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian rakyat dan mengurangi kerugian petani sawit akibat fluktuasi harga TBS.