SULUTZONE -- Tokito Oda, petenis kursi roda muda asal Jepang, memiliki kisah inspiratif yang dimulai dari mimpi di Paris.
Namanya, yang terinspirasi dari Arc de Triomphe, monumen ikonik di ibukota Prancis, kini diukir dalam sejarah tenis kursi roda dunia.
Oda telah meraih dua dari empat gelar Grand Slam di ajang French Open, dan Paris pun menjadi saksi bisu atas perjalanan kariernya yang luar biasa. Pada usia 18 tahun, Oda yakin bahwa Paris adalah tempat yang tepat untuk debutnya di Paralimpiade.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Masih Akan Bela Timnas Portugal Lebih Lama atau Pensiun ?
"Pemimpi," begitu tulis Oda dalam unggahan Instagram-nya, yang menampilkan dirinya di depan Arc de Triomphe, menjelang pertandingan tunggal tenis kursi roda di Paralimpiade Paris.
Namun, perjalanan Oda menuju panggung dunia tidaklah mudah.
Pada usia sembilan tahun, ia didiagnosis menderita kanker tulang.
Perawatan intensif dan operasi menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Di tengah masa sulitnya, Oda menemukan secercah harapan dalam sosok Shingo Kunieda, petenis kursi roda legendaris Jepang.
Saat menonton video Kunieda bertanding di final tunggal putra Paralimpiade London 2012, Oda terinspirasi dan jatuh cinta pada olahraga ini.
Sejak saat itu, Oda menunjukkan bakat luar biasa dalam tenis kursi roda.
Pada usia 14 tahun, ia menorehkan sejarah sebagai petenis putra termuda yang pernah menduduki peringkat 1 dunia dalam kategori tenis kursi roda junior.
Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar Grand Slam pertamanya di Roland Garros, sekaligus menjadi petenis termuda yang berhasil mencapai peringkat 1 dunia di kategori tunggal tenis kursi roda.
Baca Juga: Juventus Ditahan Imbang Roma, Gagal Pertahankan Tren Gol
Kini, dengan tambahan tiga gelar Grand Slam, Oda telah menjadi salah satu nama besar di dunia olahraga Jepang.
Oda, yang dijuluki sebagai penerus Shingo Kunieda, menganggap Paralimpiade Paris sebagai tantangan terbesar dalam kariernya.
Namun, Paris selalu membawa keberuntungan baginya. Di French Open tahun ini, Oda tampil dominan tanpa kehilangan satu set pun di lapangan tanah liat merah yang terkenal itu.
Baca Juga: Leo/Bagas Pecah Telur, Raih Gelar Juara Korea Open 2024!
Seperti halnya Kunieda yang menjadi inspirasinya, Oda juga ingin menginspirasi anak-anak untuk mengenal dan bermain tenis kursi roda.
Hal ini mendorongnya untuk terlibat dalam penyelenggaraan turnamen junior internasional di kota kelahirannya.
Kisah Tokito Oda membuktikan bahwa mimpi bisa terwujud, bahkan dalam keadaan yang sulit.
Baca Juga: Panahan Paralimpiade: Audi dan Ken Berjaya, Harapan Medali Indonesia Menguat!
Ia adalah bukti nyata bahwa semangat pantang menyerah dan tekad yang kuat bisa membawa seseorang mencapai puncak kesuksesan.
Oda bukan hanya seorang atlet, tetapi juga seorang inspirasi bagi anak-anak di seluruh dunia untuk berani mengejar mimpi dan meraih prestasi, tanpa memandang keterbatasan.
***